Aksi yang dilakukan ratusan ribu mahasiswa saat menurunkan Soeharto mendapat dukungan luas rakyat. Itu dibuktikan, salah satunya dengan kerelaaan sebagian masyarakat yang memberikan makanan kepada para pengunjuk rasa yang ketika itu menginap di DPR.
Namun aksi mahasiswa kali ini justru mendapat kecaman dari masyarakat. Contoh saat aksi mahasiswa UKI, Cawang yang menutup Jalan Mayjen Sutoyo maupun aksi penganiayaan terhadap anggota Polsek Kebayoran Baru Iptu Henryco Manurung oleh mahasiswa di depan kampus Moestopo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mahasiswa sekarang kok demonya nggak bermutu. Tawuranlah, bikin macet, malah mukul polisi," komentar Dudes, pembaca detikcom lainnya.
Retno, pembaca detikcom lainnya membandingkan aksi mahasiswa sekarang ini dengan aksi tahun 1998 saat menumbangkan rezim Soeharto. "Dulu tuh kalau ada demo mahasiswa kita malah senang melihat. Tapi sekarang kok, malah menyusahkan rakyat," ujarnya.
Viryan, mantan aktivis mahasiswa 1998 mengakui, ada disorientasi gerakan mahasiswa sekarang ini. Dulu pada tahun 1998, gerakan mahasiswa lebih pada diskursus di lingkaran kampus sebelum turun ke jalan.
"Sebelum turun ke jalan jadi ada proses panjang. Berbeda dengan saat ini yang langsung turun ke jalan," kata mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Untan, Pontianak, Rabu (28/5/2008).
Namun ada perpektif lainnya untuk menyikapi aksi mahasiswa saat ini. Sikap mahasiswa itu bisa dimaklumi akibat sikap para elit politik di luar batas-batas kepatutan reformasi. "Agenda reformasi tidak dijalankan elit politik, tapi malah menyengsarakan rakyat. Wajar jika mahasiswa marah," ujarnya.
(mar/nrl)











































