Myanmar Larang Warga Asing Beri Makanan ke Korban Topan

Myanmar Larang Warga Asing Beri Makanan ke Korban Topan

- detikNews
Rabu, 28 Mei 2008 10:50 WIB
Yangon - Kebijakan junta militer Myanmar benar-benar tak berpihak pada rakyatnya sendiri. Bahkan di masa-masa sulit setelah bencana topan dahsyat yang menghantam negeri miskin itu.

Junta Myanmar melarang keras warga asing memberikan makanan bagi warga Myanmar yang mengemis-ngemis makanan.

Pascatopan Nargis yang meluluhlantakkan Myanmar, ribuan korban yang selamat dari bencana itu, turun ke jalan-jalan untuk mengemis makanan dari mobil-mobil yang lewat. Mereka putus asa karena bantuan pemerintah tidak sampai ke mereka.

Buntutnya, para relawan baik asing maupun lokal, berangkat dengan mobil ke desa-desa yang dilanda bencana untuk mengantarkan langsung bantuan tersebut.

Hal itu tidak disukai junta Myanmar. Aparat kepolisian Myanmar dikerahkan untuk mengusir para pengemis dari jalanan. Polisi, tentara dan petugas imigrasi juga membuat blokade jalan untuk menanyai setiap warga asing yang melintasi jalur utama dari ibukota Yangon menuju daerah-daerah bencana.

Polisi bahkan mengancam para relawan untuk tidak menyalurkan sendiri bantuan mereka. Polisi mengancam akan mencabut SIM mereka jika ini dilanggar.

"Barang-barang bantuan sebaiknya hanya diberikan ke pusat-pusat bantuan," kata seorang polisi kepada seorang relawan yang ingin memberikan makanan ke korban topan.

"Rakyat harus belajar mencari makan sendiri. Mereka harus kembali ke rumah mereka," tuturnya seperti dilansir harian Herald Sun, Rabu (28/5/2008).

"Kami tidak ingin warga asing menganggap kami negara pengemis. SIM anda akan dicabut selama setahun jika anda kedapatan memberikan makanan," kata polisi tersebut mengingatkan.

Kondisi di Myanmar benar-benar memprihatinkan. Banyak warga yang kelaparan berebut mendekati setiap mobil yang melintas di jalan. "Tolong beri saya makanan," pinta seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dengan tangan menengadah ke sebuah mobil yang melintas.

(ita/nrl)


Berita Terkait