Peserta aksi selain mahasiswa, juga masyarakat awam dan sopir. Aksi dari kelompok belakangan ini yang paling berdampak. Jalanan jadi lengang, dan di tempat-tempat pemberhentian terjadi penumpukan penumpang. Massa berjejal menunggu angkutan.
Itu semua memang akibat kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Mereka merasa, naiknya BBM akan mempengaruhi pendapatan dan kehidupan keluarganya. Dan itu benar berdasar kalkulasi awam. Penumpang akan menyusut, sejalan dengan kenaikan tarif yang diberlakukan secara otomatis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu bagi sopir angkutan umum adalah musibah. Jalanan jadi tambah macet. Dan penumpang yang sebelumnya gampang memenuhi bangku angkotnya berubah 180 derajat. Penumpang mengalami penurunan drastis. Secara bisnis, pengguna angkot lebih memilih kredit motor dibanding naik angkot.
Jika menyambut dan pasca naiknya BBM sopir terlibat dan melibatkan diri secara aktif sebagai penentang, itu tak bisa disalahkan. Merekalah yang paling terkena dampak dari naiknya BBM. Selain, aksi itu sebagai katarsis, sebagai pelampiasan akibat gencetan berbagai sektor. Akumulasi keresahan !
Aksi demonstrasi itu naga-naganya tidak akan berhenti dalam tempo dekat ini. Luapan kecewa itu masih akan disambung berbagai sektor dan profesi. Mereka akan ikut menggelar aksi. Tapi sebagai catatan, aksi demo itu hanya sebagai solidaritas, bahwa kenaikan BBM tidak cuma sopir dan masyarakat 'pinggiran' yang terkena, tetapi semuanya.
Aksi-aksi demo itu tidak bakalan anarkhis. Itu sudah berhenti sampai di Unas. Aksi-aksi lain bakal datar-datar saja. Aksi itu tumpul setumpul para politisi yang berusaha 'membonceng' momen ini. Itu sebelum semuanya kembali tenang. Rakyat menerima dengan terpaksa kebijakan 'tidak populer' yang diberlakukan pemerintah.
Namun secara politik, langkah menaikkan BBM merupakan 'kecerdasan'. Melihat timing global, ketertekanan energi regional, dan kian banyaknya politisi yang melakukan 'kampanye hitam', maka dengan sedikit gambling diumumkanlah kebijakan itu. Ini merupakan test-case. Ndadar awak, seberapa kuat posisi tawar SBY dalam Pemilu tahun mendatang.
Dan SBY nampaknya tidak salah. Rencana menaikkan BBM yang sebelumnya sempat melahirkan ancaman dan mungkin 'suksesi' ternyata tidak terbukti. Gejolak memang terjadi. Tapi itu sebuah keniscayaan jika kebijakan itu menyangkut kepentingan orang banyak.
Kini 'kecerdasan SBY' itu masih dalam proses adaptasi. Rakyat masih sakit akibat 'tersengat' kebijakan BBM. Rakyat merasa sedang menderita dengan kebijakan itu. Namun di balik rasa sakit itu, secara implisit rakyat menyimpan harapan terhadap SBY. Itu karena konsistensinya dalam berbagai sektor. Adakah 'rasa sakit' yang diderita rakyat kini bakal berganti bahagia dan sejahtera?
Rakyat telah berkorban. Mereka yang miskin ikhlas menjadi papa. Kini kita tinggal menunggu. Adakah setelah kesakitan akibat kenaikan BBM ini bakal datang lagi zaman Kalabendu (kesakitan yang lebih parah) atau justru zaman Kalasuba (zaman keemasan) yang bakal tiba?
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(iy/iy)











































