Mahasiswa Belum Saatnya Melakukan Aksi Anarkis

Mahasiswa Belum Saatnya Melakukan Aksi Anarkis

- detikNews
Rabu, 28 Mei 2008 00:16 WIB
Jakarta - Anarkisme yang dilakukan mahasiswa dalam berbagai aksi unjuk rasa dinilai kontra produktif. Aksi anarkis bisa menghilangkan dukungan masyarakat yang merupakan modal utama mencapai tujuan demonstrasi.

Demikian diungkapkan mantan aktivis mahasiswa 1998, Savic Alielha, saat berbincang-bincang dengan detikcom melalui telepon, Rabu (28/5/2008).

"Nggak usah bikin rusuh. Demo itu kan tindakan politik, jadi yang harus dikejar adalah bagaimana tuntutan politik itu berhasil," ungkap Savic.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mantan pentolan Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) ini menambahkan, tujuan politik akan dicapai jika mendapat dukungan yang luas dari masyarakat. Tanda dukungan masyarakat, apa yang menjadi tuntutan dalam berunjuk rasa hanya akan sekadar menjadi angan-angan belaka.

"Jadi itu yang penting (meraih dukungan masyarakat luas), bukan bakar-bakarannya. Masyarakat kan bisa melihat mana aksi yang relevan dan tidak. Jadi ngapain kita melakukan perbuatan yang belum dibutuhkan," tegas Savic.

Terlebih, sambung Savic, kondisi sosial dan politik saat ini berbeda dengan era sebelum reformasi. Aparat saat ini tidak lagi main pukul dan tembak saat mengawal berbagai aksi unjuk rasa.

"Dulu (tahun 1998), masyarakat memaklumi mahasiswa memakai molotov sebagai sebuah kebutuhan karena aparat sangat represif. Sejumlah mahasiswa mati ditembak. Kalau saat ini kan tidak. Jadi ya sekali lagi, buat apa kita melakukan tindakan yang belum diperlukan," ujar Savic.

Hal lain yang harus diwaspadai mahasiswa adalah pergeseran isu dalam demonstrasi. Bukan tidak mungkin berbagai bentrokan yang terjadi membuat isu menolak kenaikan BBM untuk membela rakyat semakin tenggelam.

"Yang mencuat malah sekadar isu perseteruan antara aparat dan mahasiswa. Kalau itu yang terjadi siapa yang rugi?" pungkas Savic. (djo/gah)


Berita Terkait