Air Jadi Bahan Bakar Harus Ada Alat Bantu

Air Jadi Bahan Bakar Harus Ada Alat Bantu

- detikNews
Selasa, 27 Mei 2008 17:49 WIB
Yogyakarta - Proses pengolahan air menjadi bahan bakar tidak sederhana. Hal tersebut membutuhkan alat bantu dan prosesnya membutuhkan biaya yang sangat besar.

Di berbagai negara maju, seperti Jepang, masih belum melakukan riset mengenai itu. Padahal sebagai negara yang tidak mempunyai minyak, Jepang sangat berkepentingan.

"Kita tidak bermaksud mengunggulkan ilmu pengetahuan Barat atau negara lain. Tapi kita belajar dari sejarah. Contohnya Jepang, negara yang tidak punya sumber energi, tidak punya minyak sehingga punya kepentingan sangat besar bagaimana untuk memanfaatkan energi lain agar bisa jadi energi. Namun mereka belum bisa sampai sekarang," kata Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM Dr Tumiran di Kantor Pusat UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Tumiran, pengubahan air menjadi energi lain secara langsung sangat tidak mungkin. Kalau pun ada, harus menggunakan alat bantu lain. Misalnya di sebuah pembangkit listrik, air dijatuhkan dengan menggunakan energi gaya tarik bumi. Air yang jatuh menjadi energi potensial yang mampu menjadi energi penggerak.

Demikian pula dengan air laut yang mengandung unsur H2O dan NaCl. Namun dari segi konten, air laut itu berenergi rendah sehingga untuk memisah-misah komponennya pasti membutuhkan usaha yang sangat besar.

"Berarti butuh energi lagi untuk pemisahan. Kalau itu kita lakukan butuh alat dan biaya besar," kata Tumiran didampingi ahli Fisika UGM Dr Srihana.

Soal blue energy atau pun banyugeni, kata dia, dirinya belum bisa memberikan komentar sebab belum mengetahui dan melihat secara langsung produknya. Namun dia mempertanyakan bagaimana air bisa diproses menjadi minyak sebab air memiliki unsur H2O. Unsur H2 memang bisa dipisah, namun hal itu membutuhkan teknologi mahal.

"Kita belum tahu bagaimana air jadi minyak, prosesnya bagaimana. Ini masih tanda tanya, mungkin saja pakai stimulan unsur kapur dimasukkan. Tapi itu masih butuh proses pemanasan, butuh proses refinary, apa itu malah tidak mahal?" tanya Tumiran.

Sementara itu Srihana menambahkan, secara engineering, sesuatu yang dihasilkan dari sebuah proses itu semuanya bisa diukur dan dijelaskan secara logis. Misalnya melalui elektrolisa tetap membutuhkan energi dulu.

"Energinya, energi apa. Lihat bahannya katoda dan elektrodanya. Kita lihat semua dan diukur output input dan kadarnya seperti apa. Kemudian efisiensinya bagaimana. Jangan hanya sisi produk luarnya saja," kata Srihana mengingatkan.

Sebelumnya, Sarana Harapan Indocorp (SHI) yang nantinya akan memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan blue energy, menyangkal blue energy merupakan bahan bakar dari air. Yang benar, blue energy berasal dari rantai karbon tak jenuh dan hidrogen sehingga menjadi rantai hidrokarbon. (bgs/djo)


Berita Terkait