Jangan Langsung Percaya Terhadap Alat Baru Penghemat Energi

Jangan Langsung Percaya Terhadap Alat Baru Penghemat Energi

- detikNews
Selasa, 27 Mei 2008 17:18 WIB
Yogyakarta - Masyarakat sebaiknya tidak langsung percaya atau membeli alat penghemat energi yang belum diujicoba atau dites secara ilmiah. Bukan tidak mungkin, alat itu hanya semacam baterai yang mampu menyimpan energi beberapa saat setelah itu habis atau rusak.

Hal itu diungkapkan oleh pakar jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Tumiran kepada wartawan di Kantor Pusat UGM d Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).

"Yang pernah kita jumpai, seperti alat penghemat energi listrik, alat itu ada semacam baterai yang bisa menyimpan energi dan output lebih besar dari input," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tumiran mengaku pernah diminta seorang pengusaha di Jawa Timur untuk mengetes semua alat penghemat energi yang harganya mencapai miliaran rupiah. Alat itu sudah ditawarkan ke banyak pihak, baik kepada pengusaha maupun pejabat. Semua orang mempercayainya alat itu penghemat energi.

Pada saat akan dites alat itu ternyata dalam keadaan tertutup atau terselubung. Orang tidak boleh membuka dan dikatakan rahasia agar tidak ditiru orang lain. Namun setelah dites, faktanya alat itu tidak bisa digunakan dan bukan penghemat energi atau menghasilkan kelipatan energi.

"Saya saat itu tanda tanya, kok bisa dan keluar dari kaidah-kaidah hukum kekekalan energi. Pasti ada sesuatu di balik alat yang tertutup itu," kata Tumiran.

Ternyata dugaan Tumiran benar. Hasil tes menunjukkan alat itu tidak bisa bekerja dalam
waktu lama. Alat itu bisa mengeluarkan energi besar karena di dalamnya ada storage. Benda semacam baterai ini mampu menyimpan energi yang kemudian dikeluarkan lebih besar dari input.

"Memang besar tapi setelah itu akan mengecil, tidak bisa jangka panjang. Dan saat kita tes selama 2 jam ternyata terbakar," katanya.

Karena itu Tumiran mengimbau masyarakat agar berhati-hati membeli beraneka alat yang diklaim sebagai temuan baru. Menurutnya, dari segi pengetahuan sangat sulit diterima ada alat yang menghasilan energi tanpa proses tambahan.

"Dalam kasus semacam itu sudah banyak masyarakat yang menjadi korban," pungkas dia. (bgs/djo)


Berita Terkait