Produsen: Blue Energy Bukan dari Air, Tapi Hidrokarbon

Produsen: Blue Energy Bukan dari Air, Tapi Hidrokarbon

- detikNews
Selasa, 27 Mei 2008 15:36 WIB
Produsen: Blue Energy Bukan dari Air, Tapi Hidrokarbon
Jakarta - Sarana Harapan Indocorp (SHI) yang nantinya akan memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan blue energy, menyangkal blue energy merupakan bahan bakar dari air. Yang benar, blue energy berasal dari rantai karbon tak jenuh dan hidrogen sehingga menjadi rantai hidrokarbon.

"Siapa sih yang bilang bahan bakar dari air? Saya kok bingung. Setahu saya, waktu di Bali itu itu ditulis substitusi hidrogen pada rantai karbon tidak jenuh," ujar pejabat SHI Iswahyudi pada detikcom, Selasa (27/5/2008).

Joko Suprapto, peneliti blue energy, menurut Iswahyudi, tidak pernah mengatakan sumber energi dari air. "Kalau hidrogen yang diambil dari air mungkin. Tapi Pak Joko mengatakan karbon dan hidrogen. Soko banyu, salahe sing krungu (dari air, salahnya yang dengar). Kalau bukan hidrogen dan karbon, cumbustion engine kan nggak bisa terbakar to Mbak," kata dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hidrogen, imbuh dia, berbentuk gas dalam suhu kamar. Sedangkan untuk mengubahnya menjadi cair, akan sangat repot karena diperlukan suhu yang sangat tinggi.

"Mobil juga repot butuh tabung tekanan tinggi. Mobil yang paling bagus dengan hidrokarbon. Nah, hidrokarbon ini mau diambil dari mana. Kalau dari nabati juga dibakar mahal. Apa yang lain, alternatifnya," ujar lulusan Teknik Geologi UGM ini.

Jika penelitian Joko dianggap aneh oleh yang lain, imbuh dia, di masa 20 tahun lalu, pemakaian handphone juga dianggap aneh. "Apa kata orang kalau 20 tahun lalu saya bicara dengan kotak hitam kecil?" ujar dia.

Dia meminta semua pihak agar tidak mencibir teknologi baru yang sedang dikembangkan. "Sampaikan kepada yang hebat-hebat itu. Jangan mengatakan tidak bisa, katakan belum bisa," ujar dia.

Iswahyudi mencontohkan pemisahan hidrogen dan oksigen melalui elektrolisis yang pertama butuh energi tinggi. Teknologi baru menambahkan katalis agar energi lebih rendah.

"Apakah kalau kemudian ada orang apakah Joko, Amir, Budi, Painem kemudian dia bisa menemukan 1 cara untuk memperendah lagi, apa salah? Apa tidak mungkin? Begitu saja cara berpikirnya," kata dia.

Iswahyudi pun berjanji jika, pusat penelitian di bawah SHI, CFEWS (Center Food Energy and Water Studies) dan produk penelitian sudah jadi, maka semua akan ditunjukkan pada masyarakat.

"Kalau sudah selesai pasti saya akana keluarkan. Kalau sudah bisa produksi, ini tidak hanya ngomong minyaknya Pak Joko, seluruh produksi apabila sudah siap untuk dipergunakan pasti akan kita sampaikan ke masyarakat. Teknologi itu selesai apabila sudah bisa terbukti bisa dipakai orang banyak," ujarnya. (nwk/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads