"Kita bikin sendiri kenapa harus diributkan?" ujar pejabat SHI Iswahyudi pada detikcom, Selasa (27/5/2008).
Menurut dia, SHI mencoba membuat penelitian mandiri tanpa dana dari pemerintah. Pusat penelitian yang didirikan itu merupakan pusat penelitian pangan, energi dan air atau Center for Food, Energy and Water Studies (CFEWS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iswahyudi menambahkan, pihaknya bukan tertutup atau tidak mau bekerja sama dengan lembaga riset lain milik pemerintah. Namun sebagai pihak swasta, Iswahyudi meminta keleluasaan dalam meneliti hingga produk penelitiannya jadi.
"Terserah aku lho. Masa BPPT yang mau ngatur saya. Apa pernah saya mencampuri universitas atau BPPT. Saya nggak pernah. Kalau Toyota melakukan penelitian apa harus ada kerjasama dengan BPPT?" tukas dia.
Lokasi penelitian yang tertutup untuk umum, dikatakan Iswahyudi, karena masih banyak penelitian yang perlu dikembangkan. Gedung pusat penelitian itu pembangunannya juga belum selesai.
"Mereka dalam taraf membangun, belum selesai. Kalau mau menyembunyikan itu nggak. Kalau semuanya sudah siap, kalau pusat penelitian kita ini sudah siap, sudah bisa dikunjungi, monggo. Kalau mau mengunjungi tentunya dengan aturan yang harus dipenuhi," kata sarjana Teknik Geologi UGM ini.
Iswahyudi pun mengajak, daripada ribut-ribut berpolemik soal blue energy ini, lebih baik berlomba-lomba meneliti untuk mengembangkan teknologi yang bermanfaat.
"Daripada meributkan ini itu, mari berlomba-lomba fastabihul khoirot (berlomba-lomba menuju kebaikan) bikin penelitian. Karena kami meyakini untuk kita bisa lepas dari segala kesulitan kalau dengan teknologi. Kalau cuma mau mengeksploitisir hasil bumi ada batasnya. Teknologi yang akan bisa menjawab semua ini kesulitan dari negara ini," ajak dia.
(nwk/nrl)











































