Djoko mempraktekkan pertama kali teknologi temuannya pada mobil pribadinya, Suzuki Jimny. Namun bukannya orang lain terkagum-kagum, sebaliknya mereka malah mengejek dengan mengatakan, "Gila kamu, masak mobilmu dijalankan pakai air."
"Itu pada tahun 2005, ketika saya pakai mobil Jimny dan orang pada tahu mobil saya dijalankan pakai air, orang malah bilang gila kamu, Djok," kenang Djoko waktu itu sambil tertawa saat ditemui detikcom di rumahnya di Kelurahan Pakuncen, Jl. HOS Cokroaminoto No 76 Yogyakarta, Senin (26/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lihat saja sekarang tidak hanya teman-teman saya, tapi lewat mulut ke mulut, mereka datang ke sini. Saya pun juga tak pelit untuk berbagi pengalaman," kata Djoko yang sudah lupa berapa ratus motor yang telah dipasangi alat itu.
Menurut dia, untuk membuat alat yang bisa menampung air yang menghasilkan gas tidaklah terlalu besar. Cukup menggunakan botol plastik untuk kecap atau saus yang biasa ditaruh di meja makan. Botol bekas pun bisa dipakai asalkan tidak mudah bocor dan fleksibel bila akan ditempatkan di salah satu bagian bodi motor. Alat yang lain berupa selang kecil, kabel dan lampu kecil untuk indikator bila larutan kimia di dalam botol itu mulai berkurang. Selang akan digunakan untuk menyambung menuju tempat karburasi motor.
"Kalau bahan kimia KOH sudah berkurang bisa ditambahkan secukupnya sendiri, tak perlu datang ke tempat kami. Rata-rata baru ditambah kalau sudah mencapai lebih kurang 2.000 km," kata dia.
Ketika ditanya mengapa tidak dipatenkan saja temuannya itu, Djoko mengatakan tidak perlu. Dia tidak risau bila ada orang yang meniru atau memanfaatkan teknologi temuannya. "Semua orang kan berhak. Ilmu itu yang penting bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Saya tidak berpikir masalah paten," kata Djoko. (bgs/asy)











































