"Hampir semua restoran di Thailand selalu menyajikan air es sebagai pembuka sajian. Begitu datang, langsung diberi es. Baru ditanya mau pesan apa. Kalau mau memesan minuman lain, tentu saja boleh. Tapi apapun itu akan disajikan dengan es, kecuali menyatakan tidak," kata Samart Wangnuraki, (36) penduduk Chiang Rai, provinsi paling utara di Thailand yang berbatasan dengan negara Myanmar dan Laos.
Samart menyatakan tidak tahu mulai kapan kebiasaan minum air bercampur es itu berlangsung di Thailand. Yang pasti sejak dia kecil, hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan menjadi tradisi pula di restoran-restoran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan minum air es pagi, siang dan malam ini juga menular pada para pendatang yang bermukim di Thailand. Misalnya Ie Narn, yang baru saja resmi menjadi warga negara Thailand.
Pria berusia 43 tahun ini, sebenarnya sudah hampir 30 tahun tinggal di Thailand, namun baru empat bulan lalu menerima kartu identitas sebagai warga negara Thailand dan menanggalkan kewarganegaraan lamanya Myanmar.
"Semula memang aneh. Pagi-pagi sudah minum air es. Tetapi, lama-lama menjadi biasa. Sekarang, kalau tidak ada es, justru seperti ada yang hilang," kata Ie Narn.
Nah, Ie Narn yang sudah memahami beberapa tradisi dan budaya Thailand, kemudian memberi saran kepada mereka yang baru beberapa hari berada di Thailand.
Tentu saja, kata Ie Nam, tidak ada kewajiban harus meminum air es itu. Kalau tidak suka, tinggal sampaikan kepada pelayan. Kalau tidak bisa bahasa Thailand, ya tinggal tunjuk es-nya dan geleng-gelengkan kepala.
"Kalau pelayannya tidak mengerti juga, buang saja es-nya. Tidak susah kan?" nasehat Ie Nam. (rul/mly)











































