"Ya bagus. Artinya kan model, ada orang Jawa dan luar Jawa. Makanya saya bilang bagus," kata pengamat politik Fachry Ali, kepada warwtawan di Jakarta, Minggu(25/5).
"JK dan Sultan kan sama-sama pemimpin dan dikenal masyarakat. Kalau mau maju di Pilpres kan harus dikenal masyarakat," ujar Fachry.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setahun lalu saya bertemu Pak JK. Saya bertanya soal duet JK-Sultan ini. Jawaban Pak JK saat itu masih pikir-pikir dulu," ungkap Fachry.
Hal senada juga diungkapkan oleh pengamat Politik dari Universitas Paramadina Bima Arya dalam sebuah acara diskusi di Jakarta beberapa hari lalu. Menurut dia, jika terwujud dalam Pilpres 2009, duet Jusuf Kalla dan Sultan Hamengku Buwono X bisa menjadi alternatif pilihan rakyat.
Popularitas Sultan yang dalam beberapa kali survei terus menanjak bisa mendongkrak suara pasangan ini. Ditambahkan Bima, para capres yang akan maju bersaing dengan incumbent Presiden SBY harus menampilkan imej yang berbeda. Bima menyebutnya dengan istilah contrasting image.
"Imej yang berlawanan dengan SBY, yaitu imej yang tegas, decisive, yang lebih merakyat, itu harus dimiliki oleh pesaing SBY. Kalau sama saja ya tidak ada peluang," tuturnya.
Sayangnya, contrasting image itu dalam pengamatan Bima tidak tampak dalam diri Sultan. "Belum terlihat imej yang kontras dengan SBY, misalnya jawanya sama dan (sikap) hati-hatinya. Saya agak sulit kalau Sultan bisa menemukan contrasting image dengan SBY." cetusnya.
Bima menyebut, tokoh lain yang justru memiliki hal itu adalah mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. "Bang Yos punya contrasting image, tapi popularitasnya tidak pernah naik," kata Bima.
Menguatnya wacana duet JK-Sultan juga bisa digambarkan dari sejarah pertautan Bugis-Jawa yang sudah sejak lama tumbuh dan menyatukan Nusantara. Hal ini tergambar di diri dr Wahidin Sudirohusodo, salah satu pelopor Gerakan Boedi Oetomo 1908. Pertautan itu, kini, dijejaki M Jusuf Kalla-Sri Sultan HB X.
"Dr Wahidin adalah aktivis sosial. Juga pejuang dan nasionalis berdarah Bugis - Jawa," kata Bob Randilawe, aktivis mahasiswa 1980-an asal Makassar.
Tak banyak yang tahu,Wahidin adalah keturunan Karaeng Galesung (Bugis) dan keluarga Jawa. Ia berperan penting bagi lahir dan berkembangnya Boedi Oetomo
"Benar bahwa almarhum masih keturunan Bugis dan Jawa". Keterangan itu juga disampaikan kepada keluarga kami," kata Setiawan Djodi salah satu cucu Wahidin. saat ditemui detikcom di PIM 2 sabtu kemarin. (ron/mly)











































