"Secara pribadi, dengan tegas saya menolak kebijakan kenaikan harga BBM. Karena kebijakan itu semakin membuat rakyat tertekan dan semakin menambah jumlah rakyat miskin," ujarnya kepada wartawan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (26/5/2008).
Menurut Bernard, kenaikan harga BBM semakin membuat harga-harga barang kebutuhan lainnya juga ikut melambung tinggi. "Masyarakat semakin terbebani untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Padahal, kondisi rakyat saat ini sudah semakin mengencangkan ikat pinggang dan tertekan dengan kehidupannya," ungkapnya.
Bernard mengatakan, seharusnya pemerintah menciptakan kesejahteraan rakyat miskin, bukannya mengambil kebijakan instan dalam menyikapi kondisi ekonomi global. Pemerintah harus mengutamakan opsi alternatif lain, yakni berani tidak membayar utang luar negeri yang tidak memberi dampak positif bagi kesejahteraan rakyat.
"Juga memberantas broker pengadaan minyak dalam negeri yang mengakibatkan harga tinggi (hight cost), memprioritaskan pemberantasan korupsi kelas kakap dan tidak tebang pilih. Serta melakukan efisiensi anggaran di departemen dan institusi negara lainnya," jelasnya.
Bernard mengaku tidak takut bila mendapatkan sanksi dari Partai Golkar atas sikapnya ini. Padahal, partai berlambang pohon beringin tersebut memahami keputusan pemerintah tersebut.
"Lagipula, di alam demokrasi saat ini sangat tidak bijak apabila perbedaan pendapat disikapi dengan sikap yang otoriter karena beda pendapat itu biasa dan wajar," imbuhnya. (zal/gah)











































