Adjie Notonegoro Soal Demam Batik, Nasionalisme & Kesalahan RI

Wawancara Khusus

Adjie Notonegoro Soal Demam Batik, Nasionalisme & Kesalahan RI

- detikNews
Senin, 26 Mei 2008 15:35 WIB
Adjie Notonegoro Soal Demam Batik, Nasionalisme & Kesalahan RI
Jakarta - Demam batik. Begitulah kalau kita mau mengamati trend busana akhir-akhir ini. Busana batik tidak lagi muncul saat acara formal atau pun kondangan. Batik hadir di mana-mana, di kantor, sekolahan, tempat hiburan dan mall. Pemakainya kini bukan lagi orang dewasa, tapi juga anak baru gede (ABG) dan remaja yang biasanya suka tampil modis. Pendek kata, batik kini menjadi 'baju gaul'.

Di tengah 100 tahun Kebangkitan Nasional, batik seperti menemukan momentum tersendiri untuk bangkit. Adjie Notonegoro, perancang busana papan atas Indonesia, sangat bangga dengan fenomena demam batik ini.

Saat ditemui di butiknya di Jalan Radio Dalam Jakarta Selatan, Adjie Notonegoro yang meng-hakpatenkan kebaya adalah milik bangsa Indonesia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mencintai batik. "Batik adalah warisan budaya bangsa Indonesia, tidak ada siapapun yang bisa mengalahkan karya dari pembatik Indonesia," kata Adjie.

Mengapa batik bisa bangkit dan menjadi trend yang melanda kaum muda? Seberapa lama trend batik ini akan berlangsung?

Terbalut kaos merah dan celana jeans, saat ditemui detikcom, pria yang pernah menjadi satu-satunya perancang busana wakil dari Asia di dalam mengikuti pagelaran busana bergengsi Pramode di Munchen, dengan santai mengupas dan mengomentari demam batik.

Berikut petikan wawancara Ronald Tanamas dari detikcom dengan Adjie Notonegoro di House of Adjie di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan :


Bagaimana pendapat anda mengenai demam batik yang melanda semua kalangan di negeri ini akhir-akhir ini?


Saat ini saya bangga sekali sebagai desainer bangsa Indonesia, karena batik sudah dicintai oleh semua usia. Anak muda yang tadinya tidak suka batik sekarang sudah menyukai ciri khas dari bangsanya sendiri.

Saya berharap ini bukan hanya sekedar trend sesaat saja karena perlu diingat batik itu merupakan warisan budaya dari bangsa Indonesia. Saya selalu promosikan batik jika sedang berkunjung keluar negeri, agar bangsa lain bisa menyadari kalau batik adalah milik bangsa Indonesia.

Apa sebabnya batik bisa disukai oleh kaum muda dan sekarang bahkan muncul demam batik?

Karena pada tahun 2007 batik agak jadi trend di dunia. Beberapa perancang Indonesia awalnya membikin rancangan batik untuk bisa juga dikenakan oleh anak muda dengan didesain untuk baju sehari-hari dan juga untuk pesta. Buat saya batik tidak hanya untuk pakaian sehari-hari tapi bisa juga dibuat untuk gaun malam yang sangat istimewa.

Apa alasan anda memilih desain dengan batik, padahal dulu batik identik dengan hal-hal yang kuno?

Saya sangat mencintai batik. Dari awal karir saya dalam perancangan busana, pasti di akhir acara pagelaran ada pameran untuk batik dan kebaya. Pada tahun 1989-1990 saya merupakan satu-satunya perancang busana dari Asia yang ikut dalam Pramode Munchen dengan memamerkan batik prada karya saya dalam pagelaran bergengsi tersebut.

Responnya bagus sekali dari masyarakat di sana. Yang penting begini, karena untuk orang luar negeri batik itu merupakan motif yang sangat crowded. Namun kalau kita bisa mengkombinasikan menjadi sesuatu yang sangat indah bisa menghasilkan sebuah kekaguman yang luar biasa.

Contohnya waktu saya pergi ke Laos, Canberra, Filipina dan New Zealand. Masyarakat di sana sangat antusias sekali dengan gaun malam yang saya buat dari batik dikombinasikan dengan warna yang pas akhirnya menjadi sesuatu yang sangat indah.

Mengapa dulu batik dicitrakan dengan pakaian orang tua?

Kalau dahalu batik itu sangat identik dengan orang tua, itu disebabkan kita sudah di brainwash dengan gaya-gaya barat. Di mana rancangan hasil barat itu didengung-dengungkan lebih bagus dibandingkan buatan kita sendiri. Asal tahu saja batik itu sekarang bisa dipadukan dengan jeans, celana Capri. Batik itu bisa dipadukan dengan apapun. Batik juga bisa digunakan untuk elegan, casual dan formil sekalipun.

Batik mendapat respon positif dari masyarakat luar negeri. Sebenarnya faktor apa yang mereka sukai dari batik itu sendiri ?

Setiap ke luar negeri, saya tidak hanya melakukan pagelaran batik saja. Misalnya di Filipina, saya diberi kesempatan oleh mereka sebagai dosen tamu, di universitas di sana. Terkadang saya juga membuat seminar di sana juga. Dan pada saat itulah saya memberikan masukan bagaimana membuat batik dalam pencampuran warna dan lain sebagainya.

Batik itu pencampuran warnanya alami sekali tanpa ada bahan kimia. Mereka mengagumi hal itu. Yang lebih penting mereka menilai membuat batik adalah menguji sebuah kesabaran dan ketelitian.

Batik yang mahal adalah batik yang dikerjakan dalam waktu yang lama, karena dikerjakan dengan telaten, sabar dalam penggambaran dan motif kombinasi warna yang dipadukan sangat indah dan mengagumkan. Sehingga menurut mereka batik adalah sesuatu yang sangat spesial.

Beberapa waktu lalu sempat ada perseteruan antara Indonesia dengan Malaysia karena disebabkan beberpa hal, salah satunya adalah batik. Bagaimana menurut anda?

Saya sebenarnya begini saja, silakan Malaysia mematenkan nama batik. Namun yang kita harus hajar Malaysia dan mengingat pesan dari ibu negara bahwa setiap pengrajin, penenun di seluruh Indonesia harus menulis, ini adalah buatan atau made in Indonesia agar dunia tahu bahwa itu adalah batik buatan Indonesia.

Kalau perbedaan batik Indonesia dengan Malaysia sangat jauh sekali. Saya yakin dengan 100 %, Malaysia tidak bisa buat batik dengan gaya Indonesia. Karena Malaysia sendiri mengambil pembatik-pembatik dari Indonesia untuk ditaruh di Malaysiaa. Buat saya say to sorry untuk melihat batik Malaysia, karena sangat tidak menarik menurut saya. Sekarang kita harus menghakpatenkan batik milik Indonesia. Contohnya pada tanggal 14 november 2006 atas prakarsa dari Ibu negara saya menghakpatenkan kebaya adalah milik bagsa Indonesia.

Menurut anda dimana letak kesalahan kita sampai Malaysia bisa mengatakan batik milik mereka ?

Mohon maaf kalau saya mengatakan di sini, orang-orang Indonesia itu selalu mengatakan terlambat. Terlambat disini maksudnya kita sangat telat untuk mengakui segala sesuatu. Tapi nanti setelah orang luar mengakui, baru kita ribut. Ini kesalahan kita, nah sekarang dengan pengalaman-pengalaman seperti ini marilah kita patenkan apa yang kita miliki dan memang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Proses pembuatan batik itu seperti apa?

Dari bahan polos, kita gambar, baru kita batik, setelah dibatik baru kita malam, setelah malam kita kasih warna, setelah kita kasih warna, kita proses baru dicuci. Pembuatannya batik harus bertahap dan tidak asal jadi.

Berapa nilai batik di luar negeri ?

Masyarakat luar negeri sangat menghargai karya dari seseorang. Beda dengan orang kita. Misalkan Masyarakat luar negeri bisa menghargai batik Rp 25 juta. Sedangkan masyarakat kita hanya Rp 4 juta.

Saya tidak menjual baju batik di luar negeri namun hanya menawarkan desain dan sekaligus promosi batik di sana. Yang jelas masyarakat luar negeri lebih menghargai hasil karya seseorang daripada bangsa kita. Contohnya begini saja kalau masyarakat kita saya kasih desain pasti dibilang mahal, tapi coba kalau beli dari plaza-plaza dengan merek terkenal mahal pun pasti dianggap murah.

Bagaimana caranya menurut anda agar batik itu tidak hanya sekadar menjadi trend sesaat saja?

Menurut saya pemerintah harus membantu mensosialisasikan batik. Misalnya para pekerja dan pejabat diwajibkan memakai batik dalam seminggu 2 kali pada hari Senin dan Jumat. Misalnya di India seluruh masyarakatnya dari berbagai usia mencintai sari. Tolong dong masyarakat Indonesia juga seperti itu dengan mencintai batik selamanya. (ron/iy)


Berita Terkait