Dara asli Padang ini pun protes, "Bang, kan belum ada keputusan naik, kok main naik seenaknya saja." Tak pelak lagi terjadilah perang mulut antara keduanya. Dina pun akhirnya mengalah. Dengan wajah bersungut-sungut dia menyerahkan sisa uang yang diminta.
Dina sangat kesal karena jarak tempuh dari rumahnya menuju Terminal Bus Kalideres tidaklah terlalu jauh, kurang dari 4 kilometer. Biasanya, para sopir itu tak protes jika ia membayarnya Rp 2.000. "Padahal tadi saya sudah lebihkan Rp 500, karena BBM naik. Eh masih kurang juga," ujar Dina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga premium dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 dirasakan cukup memberatkan para sopir angkot. Dudi, sopir angkot gelap jurusan Bandara Soekarno-Hatta-Kalideres harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar BBM.
Dudi juga mengeluhkan para penumpang yang protes dengan kenaikan tarif baru yang diberlakukannya. "Seharian ini saya kena omel penumpang. Malah ada penumpang yang tetap membayar dengan ongkos lama," cerita Dudi.
Nasib serupa juga dialami Sarman, sopir Kopaja B.95. Kini bapak dua anak ini harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli solar. "Minimal saya sekarang harus mengeluarkan Rp 400 ribu untuk solar. Mana sewa (penumpang) juga sepi, karena orang beralih ke motor," ungkap Sarman.
Sarman hanya bisa pasrah. Dia berniat untuk meninggalkan profesi sebagai sopir Kopaja. Namun saat ini, dia masih belum memiliki pilihan lain. (mar/nrl)











































