Hidrogen (H2) adalah gas paling melimpah di jagad raya ini. Bintang-bintang itu materi utamanya terbuat dari H2. Misalnya matahari, itu pada dasarnya merupakan bola raksasa gas H2 dan helium (He).
Setiap atom H2 hanya mempunyai satu proton. Karena berat H2 lebih ringan dari udara, maka akibatnya H2 melayang ke atmosfir. Inilah mengapa H2 tidak ditemukan secara mandiri di bumi tetapi selalu dalam ikatan dengan elemen lain: hidrogen (H2) dengan oksigen (O2) = air (H2O), dengan karbon (C) berupa macam-macam ikatan senyawa metan (CH4), dll.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini ada dua cara produksi H2 yang telah dikenal. Cara pertama adalah dengan reformasi uap. Dari 95% produksi H2 di AS saat ini menggunakan cara ini, terutama dalam industri, dengan memisahkan H2 dari metana (CH4). Namun karena CH4 adalah dari fosil, maka sami mawon. Selain itu proses penguapan ini juga menghasilkan gas emisi yang menyebabkan pemanasan global.
Cara kedua adalah dengan elektrolisis, yakni memisahkan hidrogen dari air alias memecah molekul air (H2O) menjadi H2 dan O2. Sayangnya cara ini sangat mahal dan para ahli masih terus mengembangkan teknologi baru agar dicapai temuan yang sesuai harapan umat manusia.
Persoalannya bagaimana memproduksinya secara massal dengan harga terjangkau, sehingga bisa menggantikan bahan bakar fosil?
NASA sudah sejak 1970 menggunakan H2 cair untuk bahan bakar pesawat ulang-aling dan roket pendorong ke orbit. Tapi tentu bukan ini yang ditunggu para pemilik kendaraan bermotor, dari Rudy sampai Paimin.
Indonesia mungkin dalam waktu dekat akan bisa menjadi sanjungan dunia dengan temuan Joko Suprapto, yang oleh presiden telah dibaptis sebagai blue energy. Kita berharap untuk itu, supaya kali ini presiden Bush geleng-geleng kepala salut kepada kebanggaan nasional kita? (es/es)











































