Satu SSK dari Polres Jakarta Selatan dikirim ke kampus yang berlokasi di Jalan Sawo Manila, Pejaten, Jakarta Selatan untuk melakukan pengamanan. Pasukan tersebut dipimpin langsung Kapolres jakarta Selatan Kombes Pol Chaerul Anwar.
Demikian awal mula demo yang kemudian berbuntut kericuhan. Kronologi itu disampaikan Traffic Management Center Polda Metro Jaya pada Sabtu (24/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena situasi dinilai tidak memungkinkan, jalan di depan kampus ditutup polisi. Jumlah pengunjuk rasa yang besar membuat kekuatan pengamanan diperbanyak dengan meminta bantuan Dalmas Polda Metro Jaya sebanyak 1 SSK.
Pada pukul 23.30 WIB, situasi dapat dikendalikan. Para petugas tetap melakukan penjagaan di sekitar kampus.
Menjelang subuh pada Sabtu 24 Mei 2008, warga sekitar meminta unjuk rasa dihentikan karena mengganggu salat subuh. Permintaan itu disampaikan kepada petugas. Akhirnya petugas pun meminta pendemo menghentikan kegiatannya.
Tetapi pengunjuk rasa tetap melakukan orasi. Sekitar pukul 04.50 WIB para pengunjuk rasa menyerang petugas keamanan cara melempari batu, botol, dan bom molotov. Warung, rumah, dan mobil warga sekitar rusak karenanya, dan beberapa petugas mengalami luka-luka.
Karena berubah menjadi tindakan anarkis, petugas berupaya menghentikan kegiatan. Penangkapan pelaku anarkis yang melarikan diri ke dalam kampus pun dilakukan. Pengunjuk rasa yang akan ditangkap memberikan perlawanan sehingga menyebabkan kerusakan pada 4 jendela dan satu pintu di dalam kampus. Bahkan beberapa demonstran luka-luka.
140-an orang ditangkap dan dibawa ke Mapolres Jakarta Selatan. Sejumlah barang bukti berupa botol-botol minuman keras merk Vodka, Mensen, dan lainnya yang berjumlah 88 botol, 2 jerigen minyak tanah, 1 timbangan, 175 gram dan 79 linting ganja kering, serta satu bong (penghisap sabu) dibawa.
Polisi juga mengamankan senjata tajam berupa celurit, pisau dapur, dan besi siku. Ditemukan pula bambu, kunci Inggris, batu, pil dumolid 5 mg sebayak 16 butir dan pil xanax 17 strip.
Pemeriksaan sementara dari 148 orang yang ditangkap, diidentifikasi 114 mahasiswa Unas, 6 alumni Unas, 11 mahasiswa universitas lain, dan 17 orang bukan mahasiswa.
Mahasiswa yang mengalami luka ringan salah satunya bernama Carlos. Dia adalah mahasiswa UKI yang pelipis kanannya robek. 5 polisi terluka, satu diantaranya luka berat.
Dari temuan ganja dan bong, tes urin dilakukan. Hasilnya 50 orang positif memakai narkotika, dan 5 orang positif memakai psikotropika, serta 3 orang pengedar narkoba.
Pada Sabtu 24 Mei 2008 sekitar pukul 14.00 WIB granat nanas aktif ditemukan di pekarangan kampus. Pengamanan oleh Gegana Polda Metro Jaya pun dilakukan.
Satu jam kemudian, sekitar 100 mahasiswa datang ke Mapolres Jakarta Selatan meminta pembebasan tidak bersyarat rekan-rekannya. Sepulang dari unjuk rasa, di perempatan Republika, Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan, pendemo turun dari kendaraan dan memukul polantas Bripda Arief Budianto yang tengah bertugas. Sepeda motor petugas juga dirusak. (nvt/nvt)











































