Pengembangan membran dengan biaya murah itu berhasil dilakukan perusahaan KEMA, yang juga menangani standardisasi perlengkapan listrik di Belanda. Membran murah ini memungkinkan pembangunan pusat listrik berbasis blue energy bisa dimulai.
Di Belanda, lokasi yang dipilih adalah kawasan berlimpah suplai air di muara Waddenzee dan Afsluitdijk. Ujicoba instalasi secara resmi akan dilakukan oleh Menteri Ekonomi Maria van der Hoeven pada 2/6/2008 mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Membran untuk blue energy hasil pengembangan Dr Ross dan Dr tersebut bisa jauh lebih murah karena urutan beberapa tahapan pembuatannya dibalik, sehingga produksinya bisa kontinyu, lebih cepat dan lebih efisien. Selain itu bahan baku yang digunakan juga sangat murah: polyethyleen.
Prototipe pembangkit listrik blue energy yang terdiri dari 4 modul, masing-masing berukuran 2x2x2 meter mampu menghasilkan daya 250 KW. Dari setiap meter kubik air sungai yang mengalir per detik ke laut dapat diperoleh daya listrik sebesar 1 MW.
Sebagai perbandingan: sebuah windmolen (kincir angin) dengan ketinggian 100m dan diameter rotor 70m hanya menghasilkan daya listrik rata-rata 300KW.
Setelah sukses pengembangan membran murah untuk blue energy tersebut, diharapkan energi listrik yang sustainable ini dapat meluas dibangun diberbagai belahan dunia, untuk menggantikan energi listrik yang penggerakan turbinnya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dari fosil, yang semakin langka, mahal dan membebani lingkungan.
(es/es)











































