Blue Energy Tak Lagi Mahal

Laporan dari Den Haag

Blue Energy Tak Lagi Mahal

- detikNews
Sabtu, 24 Mei 2008 03:23 WIB
Blue Energy Tak Lagi Mahal
Den Haag - Sudah lama diketahui bahwa mencampur air asin dan air tawar dapat membangkitkan energi. Ganjalannya adalah membran yang mahal. Dobrakan terjadi setelah di Belanda bisa dikembangkan membran murah.

Pengembangan membran dengan biaya murah itu berhasil dilakukan perusahaan KEMA, yang juga menangani standardisasi perlengkapan listrik di Belanda. Membran murah ini memungkinkan pembangunan pusat listrik berbasis blue energy bisa dimulai.

Di Belanda, lokasi yang dipilih adalah kawasan berlimpah suplai air di muara Waddenzee dan Afsluitdijk. Ujicoba instalasi secara resmi akan dilakukan oleh Menteri Ekonomi Maria van der Hoeven pada 2/6/2008 mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua pakar dari KEMA, Dr Rob Ross dan Dr Josien Krijgsman, sangat berjasa atas keberhasilan mereka mengembangkan metode di mana membran yang memisahkan anion dan kation itu bisa 50 sampai 100 kali lipat lebih murah. Akhir tahun 2004 membran tersebut sukses diujicoba.

Membran untuk blue energy hasil pengembangan Dr Ross dan Dr tersebut bisa jauh lebih murah karena urutan beberapa tahapan pembuatannya dibalik, sehingga produksinya bisa kontinyu, lebih cepat dan lebih efisien. Selain itu bahan baku yang digunakan juga sangat murah: polyethyleen.

Prototipe pembangkit listrik blue energy yang terdiri dari 4 modul, masing-masing berukuran 2x2x2 meter mampu menghasilkan daya 250 KW. Dari setiap meter kubik air sungai yang mengalir per detik ke laut dapat diperoleh daya listrik sebesar 1 MW.

Sebagai perbandingan: sebuah windmolen (kincir angin) dengan ketinggian 100m dan diameter rotor 70m hanya menghasilkan daya listrik rata-rata 300KW.

Setelah sukses pengembangan membran murah untuk blue energy tersebut, diharapkan energi listrik yang sustainable ini dapat meluas dibangun diberbagai belahan dunia, untuk menggantikan energi listrik yang penggerakan turbinnya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dari fosil, yang semakin langka, mahal dan membebani lingkungan.
(es/es)


Berita Terkait