Surat Hasrat atau Letter of Intent keempat pihak itu diteken tiga tahun kemudian (Desember 2007), di mana mereka sepakat untuk mengembangkan pusat energi listrik dari perbedaan potensi antara air laut (asin) dan air sungai (tawar).
Lokasi yag ditetapkan adalah kawasan berlimpah suplai air di muara Waddenzee dan Afsluitdijk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan itu --melalui pemisahan membran-- menurut Persamaan Nernst besarnya kurang lebih 80mV:
| RT | [Na+]left | 8.31*300 | 30 | |||||
| o=z | in | =1 | in | = 0.086 V | ||||
| F | [Na+]right | 96500 | 1 |
Perbedaan tegangan yang kecil ini dilipatgandakan dengan kompartemen seri oleh membran-membran yang selektif terhadap anion dan kation sehingga diperoleh tegangan besar untuk energi. Listrik dari Blue Energy ini sangat sustainable, karena tanpa emisi CO2, NOx dan SOx.
Lagi pula bahan bakunya melimpah dan gratis dari alam. Menurut bahan informasi yang diperoleh detikcom dari Wetsus, secara teori air sungai Rijn yang bertemu dengan Laut Utara dapat memasok 6000 megawatt (MW).
Kurang jelas mengapa pusat Blue Energy versi Joko Suprapto memilih lokasi di Cikeas. (es/es)











































