Perampokan itu terjadi di depan rumah Buyung, pemilik gudang kelontong terbesar di Jakarta Selatan, di Jalan Bangka IX, Kemang, Jakarta Selatan pada Kamis 23 Mei 2008.
Kejadian berawal saat karyawan Buyung, Ayu, hendak mengantarkan uang hasil penjualan dan sejumlah perhiasan ke rumah sang bos, yang berjarak 300 meter dari gudang sekitar pukul 23.30 WIB.
Ayu yang berjalan kaki membawa uang sejumlah Rp 400 juta dan perhiasan senilai Rp 200 juta dalam kardus. Tiba-tiba, 4 pria yang mengendarai 2 sepeda motor memepetnya. Perampok melepaskan 5 tembakan ke udara. Dor...dorrr...!
Nyali Ayu pun ciut dan terpaksa menyerahkan harta milik Buyung ke perampok. Puas mengondol hasil rampokan, perampok yang mengenakan helm cakil itu langsung menancap gas dan kabur. Ngeeeng! Peristiwa ini akhirnya dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan.
"Waktu itu ramai banget, banyak anak nonton. Tetapi karena mengeluarkan tembakan jadi tidak ada yang nolong. Mau ngejar juga tidak berani karena takut ditembak," kata saksi mata, Gunawan yang berdagang pulsa ini.
Tetangga Buyung, Hendrawan, mengatakan karyawan Buyung memang sudah biasa membawa uang hasil penjualan di dalam kardus. "Itu sudah biasa dilakukan, dibopong saja dengan kardus uangnya," ujar dia.
Pengamatan detikcom, rumah mewah milik Buyung yang berlantai 3 ini tertutup rapat. Buyung dan keluarganya pun menolak berkomentar. Namun gudang milik Buyung tetap buka seperti hari biasanya.
"Iya ada perampokan semalam. Tanya bos saja ya detilnya. Saya nggak berani," kata Untung, seorang karyawan Buyung. (aan/ita)











































