"Ini perang terbuka. Ini kondisi yang sangat mudah dimanfaatkan oleh kompetitor politik SBY. Saat ini tepat untuk menjatuhkan popularitas SBY dan menaikkan citra kompetitor," kata pengamat politik dari Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto, saat dihubungi detikcom mengenai iklan Wiranto, Rabu (21/5/2008).
Akan tetapi, menurut Bima Arya, SBY tidak perlu panik ataupun defensif terhadap manuver lawan-lawan politiknya. SBY juga tidak perlu bertahan di balik komentar-komentar para menteri dan orang dekatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bima Arya justru menyayangkan sikap istana yang justru menyerang balik iklan Wiranto. Lewat Mensesneg Hatta Rajasa, SBY membantah telah berjanji tidak akan menaikkan harga BBM.
"Catatan saya, SBY memang pernah bicara tidak akan menaikkan harga BBM. Daripada debat di media, debat publik saja," usul Bima Arya.
Dalam catatannya, SBY pernah berjanji tanggal 7 November 2007 usai pelantikan KSAL. Dia bilang, tidak ada opsi untuk itu (menaikkan harga BBM). Juga tanggal 5 Maret 2008. Pada waktu itu SBY lebih memilih penghematan energi daripada menaikkan harga BBM.
"Itu menunjukkan SBY kurang bisa memprediksi keadaan," sesal Bima Arya.
Iklan Wiranto tersebut dibuat setengah halaman koran. Ada gambar Wiranto berpeci dan orang-orang yang mengantre minyak tanah. Di iklan mencolok itu, tertulis kalimat sebagai berikut:
'Semoga SBY Tepat janji Tak Menaikkan Harga BBM. Karena penduduk miskin akan bertambah, karena keresahan sosial akan meluas, karena masih ada solusi lain. Kami mengimbau pemerintah pertimbangkan kembali rencana kenaikan harga BBM, apalagi SBY pernah berjanji tak menaikkan BBM kembali. Jika pemimpin berjanji, selayaknya janji itu ditepati.' (Ari/ndr)











































