Malu Peringati Seabad Harkitnas

Kolom

Malu Peringati Seabad Harkitnas

- detikNews
Rabu, 21 Mei 2008 15:50 WIB
Malu Peringati Seabad Harkitnas
Jakarta - 20 Mei 2008 terasa berkecamuk bagi saya. Saya bingung. Apakah saya harus memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas ? Hari tergulingnya Soeharto? Atau Hari Raya Waisak? Kalau yang terakhir jelas tak mungkin, karena sejauh ini KTP saya tertulis beragama Islam. Jadi pilihannya tinggal dua yang pertama.
Β 
Sebagai Hari Kebangkitan Nasional, duh saya kok jadinya merasa canggung. Canggung karena sepertinya terasa sangat sloganistis. Bukannya sejak dulu (bahkan sebelum saya lahir), kita selalu memperingatinya sebagai 'Kebangkitan Nasional' meski kenyataannya ya begitu-begitu saja? Sempat sih dulu ada Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang membanggakan, tapi toh sekarang kabarnya malah membikin panci dan periuk. Jadilah saya merasa canggung (dan bahkan malu) karena seabad berlalu tapi hasil dari kebangkitan belum juga bisa dituai.
Β 
Saya malu ketika bertemu bangsa-bangsa merdeka lain, yang kurang dari masa seabad, sudah bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain yang sudah berabad-abad merdeka. Tak usah jauh-jauhlah, Malaysia dan Singapura yang merdeka belakangan saja sudah sedemikian majunya meninggalkan Indonesia di belakang. Saya malu memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan megah di Gelora Bung Karno, mengerahkan 30 ribu orang, dengan atribut dan kembang api yang indah, sementara jutaan rakyat masih makan nasi satu kali sehari dan bersekolah di bangunan yang hampir rubuh. Jelas saya canggung dan malu memperingati 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Β 
Jadilah saya lebih cenderung mengingat 20 Mei sebagai tanggal saat reformasi bergulir. Tanggal saat ratusan ribu mahasiswa dan rakyat turun ke jalan dan menganeksasi alias menguasai secara paksa gedung DPR/MPR, sehingga membuat Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun harus menyerahkan tahta kepada wakilnya BJ Habibie.
Β 
Namun, 10 tahun berlalu, perasaan canggung juga muncul di benak saya. Apakah benar reformasi telah berjalan? Ah, ternyata, 10 tahun reformasi pun saya peringati dengan berkecamuk. Hati saya berkecamuk melihat reformasi bukan dinikmati oleh orang-orang yang dulu bersimbah peluh dan darah di jalanan ketika berteriak 'Turunkan Soeharto', 'Cabut Dwifungsi TNI', 'Turunkan Harga', dan 'Adili Soeharto'. Hati saya berkecamuk, apakah semua yang dulu saya ikut teriakkan itu sudah dijalankan?
Β 
Soeharto memang turun, namun sempatkah diadili dan sebagian kekayaan dia dan kroninya diselidiki asalnya? Dwifungsi TNI kabarnya dihapuskan, namun aset-aset bisnisnya masih sulit diatur, oknum-oknumnya masih ada yang sakti tak bisa disentuh hukum. Harga barang? Bukannya turun malah naik terus. Bahkan akhir Mei 2008 ini juga, BBM akan kembali naik harganya. Yang berkuasa juga bukan teman-teman saya yang dulu tulus memimpin demonstrasi di jalanan, bahkan sampai ada yang diculik atau dipenjara. Aih, reformasi telah dibajak di tengah jalan.
Β 
Akhirnya, saya memperingati 20 Mei sebagai hari reformasi dengan hati berkecamuk pula. Berkecamuk, menunggu saat bisa memperingati 20 Mei dengan bangga akan kemajuan bangsa. Menunggu saat 20 Mei diingat sebagai kenangan akan kemiskinan dan ketidakadilan. Menunggu 225 juta rakyat Indonesia memperingatinya dengan suka cita atas keadilan pemimpin dan kemakmuran ekonomi Indonesia. Tapi kapan?

Keterangan penulis:
Arfi Bambani Amri adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads