Prof. Sanders: Nilai Per Hektar untuk Biomassa Cukup Menantang

Laporan dari ISSM XI, Delft

Prof. Sanders: Nilai Per Hektar untuk Biomassa Cukup Menantang

- detikNews
Rabu, 21 Mei 2008 14:34 WIB
Prof. Sanders: Nilai Per Hektar untuk Biomassa Cukup Menantang
Delft - Konsumsi energi secara global akan naik tiga kali lipat pada 2050. Bio-massa bisa menjadi alternatif. Nilai per hektar tanaman industri untuk bio-massa cukup menantang.

Demikian paparan Prof. Johan Sanders selaku pembicara kunci pada perhelatan ilmiah pelajar dan profesional Indonesian Students' Scientific Meeting 2008 (ISSM 2008) di Delft University of Technology (TU Delft), 13-15 Mei 2008 bertema Sustainable Development in Indonesia: An Interdisciplinary Approach.

Konsumsi energi oleh penduduk Amerika Utara saja saat ini jauh melampaui rata-rata penduduk dunia yakni 59 GJ per kapita per tahun. Pada 2050 (45 tahun lagi) rata-rata konsumsi energi akan melonjak menjadi 100 GJ per kapita per tahun untuk 10 miliar manusia. Jika ditotal, konsumsi energi saat itu akan mencapai 1000 EJ per tahun.

Sekarang ini kelangkaan suplai bahan bakar dari fosil sudah menimbulkan gejolak, harganya melambung. Sementara ke depan cadangan bahan baku energi dari fosil akan semakin menipis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika mau mengaplikasikan biomassa untuk mengganti bahan baku dari fosil, maka dapat dipilih antara empat aplikasi besar, yakni panas, listrik, transportasi, dan kimia. Lalu, apakah cukup menjanjikan?

Diasumsikan bahwa kita ingin membuat setiap produk-produk tersebut dengan proses agrikultural, maka gross value (nilai kotor) per hektar sebagai bahan baku pemanas (terutama dibutuhkan di Eropa, red) adalah pada kisaran EUR 640 pada level produksi 10 ton berat bersih/hektar/tahun (baca: per hektar per tahun).

Menurut Sanders, buat petani Belanda itu terlalu rendah untuk bisa menutup biaya dan kembali modal.

Selanjutnya jika 10 ton itu digunakan sebagai bahan baku mentah untuk produksi bahan bakar transportasi, maka omzet brutonya bisa mencapai EUR 1.360/hektar. Ini bisa mencukupi biaya dan mendatangkan pendapatan untuk petani.

Jika keseluruhan 10 ton itu digunakan sebagai bahan baku untuk kimia (precursor), maka bisa menghasilkan EUR 6.400/hektar. Namun demikian tidak realistis bahwa keseluruhan 10 ton itu dapat digunakan dengan cara ini.
Β 
Diasumsikan 20% berat kering hasil panen diwakili oleh bahan dasar atau bahan baku kimia, 40% digunakan sebagai bahan bakar dan 40% lainnya sebagai bahan baku listrik, maka nilai EUR 1.940/hektar bisa diharapkan.

Dengan perbaikan praktik agrikultural dan penggunaan keseluruhan komponen tanaman, kita perkirakan bahwa dapat diperoleh 20 ton/hektar untuk beberapa jenis tanaman, di mana dapat mendatangkan hasil per hektar mencapai EUR 3.880/tahun.

Dalam rangka memperoleh penghasilan neto yang baik, maka diperlukan sistem bio-refinery efektif, yang mampu memisahkan tanaman hasil panen sekurangnya dalam tiga fraksi untuk tiga tujuan kita. Tiga fraksi ini dapat langsung digunakan langsung sebagai produk yang diinginkan atau memerlukan konversi lanjut dengan sarana kimiawi, enzimatik, atau microbial.

Nilai tersebut di atas mengambil perbandingan dengan omzet bruto gandum per hektar di Belanda. Untuk petani Indonesia perspektif ekonominya bisa lain.
(es/es)


Berita Terkait