"Sekarang ini saya nggak hari-hari omong kosong, saya hari-hari omong konkret sekarang," kata Harmoko saat peluncuran bukunya yang berjudul 'Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko' di Jakarta Media Center, Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (21/5/2008).
Dalam acara itu, Harmoko menyatakan, permintaan agar Soeharto turun dari kursi presiden pada 1998 telah dilakukan secara konstitusional. Kala itu, sopan santun politik juga telah dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebetulan ada Pak Jimly. Saya sedang bercerita, berhentinya Soeharto sebagai presiden dan pengucapan sumpah Habibie sebagai presidan sudah sah sesuai konstitusi? Betul ya?" tanya Harmoko.
Jimly hanya manggut-manggut. "Tuh, kan. Ketua MK loh, tidak main-main," cetus Harmoko yang disambut tawa para hadirin.
Dia lantas mengatakan, ingin menceritakan banyak hal sesuai isi buku tersebut. "Tetapi saya orang yang tidak mau melihat kaca spion," sambung pria yang juga pernah menjadi menteri penerangan ini.
Sebab kalau hanya lihat kaca spion, lanjut Harmoko, maka yang bersangkutan akan menubruk benda di depannya sehingga bisa terjadi tabrakan.
"Lebih baik kita lihat ke depan, ini yang penting. Setelah reformasi 10 tahun apa yang harus kita lakukan. Kita tidak lihat kaca spion tapi sekali-kali bolehlah untuk penalaran, tetapi yang penting kita ke depan," beber Harmoko. (nvt/ana)











































