General Manager Pemasaran BBM Ritel Region III Pertamina, Wahyudin Akbar menjelaskan, langkah semacam ini sengaja dilakukan untuk mengantisipasi kepanikan warga terkait kenaikan BBM. Kepanikan itu biasanya menyebabkan warga membeli BBM dalam jumlah yang lebih besar untuk persedian. Tapi ada juga yang ingin mencari untung dengan aksi beli besar-besaran ini. Mereka akan menjual BBM yang ditimbun sebelumnya saat harga mulai mengalami kenaikan. Fenomena seperti ini mengakibatkan kendaraan bermotor sering kecele ketika ingin membeli BBM di SPBU. Sebab sudah habis oleh pembelian besar-besaran tersebut.
"Ketika pemerintah mau menaikkan harga BBM maka masyarakat membeli banyak-banyak. Ada sebagian untuk ditimbun. Makanya, kami membatasi pembelian terutama agar saat terjadi rush dan tidak banyak yang menimbun," kata Wahyudin saat dihubungi detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam surat edaran yang dilayangkan ke seluruh SPBU tertulis, pembatasan pengisian BBM untuk kendaraan bermotor masing-masing, untuk premium, mobil pribadi maksimum boleh membeli Rp 75 ribu, angkutan umum maksimun Rp 100 ribu, sedangkan sepeda motor maksimum Rp 15 ribu. Sementara solar untuk kendaraan pribadi maksimum Rp 75 ribu, angkutan umum maksimum Rp 100 ribu, truk maksimum Rp 250 ribu, dan bus antarkota maksimum Rp 250 ribu. Surat edaran ini berlaku sampai ada kepastian dari pemerintah soal harga dari BBM. "Surat ini juga berfungsi untuk memantau para spekulan BBM," ujar Wahyudin
Banyaknya spekulan yang berharap untung dari kenaikan harga BBM memang begitu terlihat dua pekan belakangan. Aksi pembelian besar-besaran terjadi di sejumlah daerah. Menurut catatan Pertamina, sejak 1 Mei 2008, permintaan masyarakat terhadap BBM meningkat cukup drastis. Kenaikan permintaan tertinggi terjadi di Surabaya.
Berdasarkan data Pertamina dari laporan daerah-daerah, terjadi peningkatan penjualan BBM di SPBU sebagai berikut, di Medan permintaan Premium dan Solar sebanyak 7%, Palembang sebanyak 6%, Jakarta permintaan premium meningkat 15% dan solar 5%, Semarang permintaan premium dan solar meningkat 10%, Surabaya meningkat 18%, Balikpapan 10%, sedangkan di Makasar permintaan premium dan solar meningkat 5%. "Rata-rata nasional penjualan normal per hari Premium 50.000 KL dan Solar 37.000 KL," jelas VP Komunikasi Pertamina Wisnuntoro kepada detikcom.
Meningkatnya permintaan tersebut dianggap Pertamina tidak wajar. Misalnya, di salah satu SPBU biasanya hanya meminta 20 kiloliter, tapi belakangan SPBU itu tiba-tiba minta ditambah jatah 40 kiloliter. Sebab itu, imbuh Wisnuntoro, Pertamina melakukan pengecekan. Referensinya berasal dari data enam bulan terakhir yakni tentang jumlah pembelian masing-masing SPBU setiap harinya. "Kalau tiba-tiba naik, itu akan kita cek dulu, kenapa naik," katanya.
Untuk mengatasi aksi cari untung dari sejumlah kalangan, Pertamina mengaku akan berkoordinasi dengan pemda di daerah setempat dan Polda untuk mengantisipasinya. Sebab meski konsumsi meningkat, herannya di sejumlah daerah mengalami kelangkaan BBM. Hal ini dicurigai akibat adanya aksi penimbunan oleh masyarakat maupun pemilik SPBU.
Banyak kalangan menilai aksi penimbunan ini terjadi lantaran sikap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla ragu dalam menetapkan harga BBM. Akibatnya belum juga harga BBM naik, sejumlah kebutuhan pokok ikut-ikutan naik. Keraguan itu juga berakibat maraknya aksi penimbunan oleh masyarakat.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika mengatakan, ekspektasi lonjakan inflasi akibat ketidakjelasan waktu dan besaran kenaikan harga BBM sangat beralasan. Masalah ini terjadi akibat pemerintah SBY mengisyaratkan keragu-raguan, meski memastikan akan menaikkan harga BBM. "Apapun kebijakan pemerintah soal BBM harusnya cepat diputuskan. Sebab kalau tidak, spekulasi akan menyebabkan munculnya para spekulan untuk menimbun BBM," tutur Ahmad Erani.
Soal kepastian besaran harga BBM kalau dinaikan, lanjut Yustika, juga perlu dilakukan pemerintah. Langkah ini diperlukan untuk meredam spekulasi. Terlunta-luntanya kenaikan harga BBM bersubsidi dikhawatirkan akan menimbulkan ketidakpastian di masyarakat. (ddg/iy)











































