Signifikansi Gereja dan Dialog Menuju Indonesia Damai Harmonis

Laporan dari Vatikan

Signifikansi Gereja dan Dialog Menuju Indonesia Damai Harmonis

- detikNews
Senin, 19 Mei 2008 14:35 WIB
Vatikan - Dalam upaya mencapai kepentingan bersama, Gereja Katolik Indonesia harus mempromosikan dan meningkatkan dialog antaragama dengan berbagai penganut agama dan kepercayaan.

Hal itu disampaikan Romo Paulus Toni Tantiono, OFM Cap yang baru saja menyelesaikan studi doktoratnya di Universitas Gregoriana dalam diskusi terbatas dialog antar agama yang digelar KBRI Vatikan bekerjasama dengan IRRIKA (Ikatan Rohaniawan/wati Indonesia di Kota Abadi Roma) pada 17/5/2008.

Selain Romo Toni, pembicara lainnya adalah Romo Markus Solo Kewuta SVD, seorang warga negara Indonesia yang menjadi salah satu pejabat Vatikan di Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, yang pada kesempatan ini datang dalam kapasitasnya sebagai warga negara Indonesia dan atas nama pribadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diskusi terbatas dibuka oleh Dubes RI untuk Kota Suci Vatikan Suprapto Martosetomo dan dihadiri oleh masyarakat awam serta rohaniawan/wati Indonesia yang berada di Roma.

Dalam paparannya, Romo Toni menyampaikan pandangan teologikal mengenai pewartaan kebenaran Kristus dengan mengambil contoh Surat Rasul Paulus kepada umatnya di Galatia dan Ephesus, demikian seperti disampaikan Korfungsi Pensosbud Hesti Dewayani kepada detikcom malam ini.
 
Bertolak dari pandangan tersebut dan dikaitkan dengan relevansi Gereja Katolik di Indonesia saat ini, Romo Toni lebih lanjut menyampaikan bahwa dalam menghadapi situasi Indonesia saat ini Gereja Katolik Indonesia perlu menunjukkan signifikansinya dalam mewartakan kebenaran melalui langkah-langkah nyata bagi para umatnya maupun komunitas sekitarnya. Bentuknya bisa berupa kegiatan-kegiatan sosial seperti bidang kesehatan dan pendidikan dalam upayanya untuk turut serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Gereja Katolik Indonesia diharapkan juga dapat bekerja bersama dengan berbagai komunitas agama yang lain untuk membangun Indonesia menjadi sebuah negara yang adil, damai, harmoni dan sejahtera. "Oleh karenanya dalam upaya mencapai kepentingan bersama, Gereja Katolik Indonesia harus mempromosikan dan meningkatkan dialog antaragama dengan berbagai penganut agama dan kepercayaan," demikian Romo Toni.

Tulus Seimbang
 
Sementara itu, Romo Markus Solo Kewuta, SVD menekankan presentasinya mengenai dialog antaragama dan bagaimana Gereja Katolik melihat pentingnya dialog antaragama sebagai upaya untuk mencapai perdamaian.

Hal ini terlihat dari pandangan Gereja Katolik secara universal tentang hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama non-Kristiani yang dinyatakan dalam dokumen Konsili Vatikan II Nostra Aetate.

Secara khusus, terkait dengan situasi Indonesia saat ini, Romo Markus menekankan pentingnya dialog yang tulus dengan mengedepankan sikap seimbang terhadap yang lain, berakar dalam identitas sendiri, terbuka terhadap kebenaran lain, pengetahuan tentang yang lain serta mencari titik temu dan bukan mencari kelemahan.

Pada kesempatan itu juga diwarnai dengan bebagai tanya jawab dari para peserta yang ada, baik terkait aspek teologikal maupun praktik politik praktis yang dikaitkan dengan aspek agama.

Dalam penutup diskusi terbatas ini akhirnya diambil kesimpulan anatara lain :a) Allah terlalu besar untuk dipahami oleh suatu institusi agama, maka manusia akan selalu mencari kebenaran melalui dogma agamanya masing-masing, b) ajakan untuk saling memahami dogma masing-masing agama, 3) ajakan untuk bekerja sama dan saling memperkaya pemahaman satu sama lain untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan akhirnya dapat mencapai pemahaman bersama mengenai satu Allah.
(es/es)


Berita Terkait