Mega bertemu dengan siswa-siswa SMP yang jumlahnya sekitar 829 orang. Sekadar informasi, pada 1954, Presiden I RI Soekarno pernah berorasi di tempat yang sekarang menjadi lokasi SMP itu.
Pada Sabtu (17/5/2008) pagi, Mega memasuki kelas 9 A yang jumlah muridnya sekitar 30 orang. Bak seorang guru dia memberi pertanyaan-pertanyaan kepada para siswa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Elsa, siswi yang duduk di bangku depan dengan sigap menjawab, "Asean."
"Bagus. Jadi kalau ada yang bertanya jangan malu menjawab karena ini menambah ilmu. Lalu berapa anggota Asean?" tanya Mega lagi.
"Sepuluh," jawab Elsa.
"Coba sebutkan," pinta Mega.
Elsa berusaha keras mengingat nama-nama 10 negara itu, namun dia hanya mampu menyebutkan 7 negara saja. Saat Elsa menyebut nama-nama anggota Asean, Kepsek SMPN 4 Gombong Eko Budianto menghitung dengan jarinya.
Mega mengira Eko tengah membantu Elsa untuk menjawab. Mega pun menegur. "Jangan dikasih tahu, Pak, biarin dulu saja. Biar saya tahu kemampuan mereka sampai di mana," ucap Mega.
"Nggak kok Bu, saya cuma membantu menghitung saja," Eko membela diri.
Mega lantas menjelaskan, awalnya Asean hanya terdiri 6 negara. Kemudian masuk negara-negara yang berada di Delta Mekong seperti Laos, Kamboja, dan Vietnam. "Satu lagi apa ya..." cetus Mega.
"Kamboja Bu," kata seorang guru.
"Oh iya Kamboja," kata Mega sambil bersiap-siap melontarkan pertanyaan lagi.
Dia kemudian bertanya siapakah Napoleon Bonaparte. Namun siswa-siswi itu tidak bisa menjawab. Mega pun menerangkan, Napoleon adalah salah seorang pahlawan dari Prancis.
"Apa yang akan kita rayakan nanti?" tanya Mega selanjutnya.
"Hari Kebangkitan Nasional yang ke seratus," kata seorang siswa dengan lantang.
"Bagus, bagus," puji Mega sambil bertepuk tangan.
Pertanyaan selanjutnya dari mantan Presiden RI tersebut adalah jenis burung yang langka
"Jalak," jawab siswa bernama Anas.
"Jalak Apa?" tanya Mega.
"Jalak Bali."
"Warnanya apa?"
"Putih."
Kenapa langka? Namun jawaban Anas tidak memuaskan Mega. Akhirnya dia pun memberi penjelasan. "Karena dia sangat sulit bereproduksi," katanya.
Pertanyaan kembali dilontarkan Mega. Kali ini tentang partai asal dirinya. Anak-anak menjawab kompak, "PDIP."
"Salah. Tidak boleh menyebut P. PDI boleh disingkat, tapi P-nya tidak boleh disingkat, harus disebut perjuangan," kata Mega mengakhiri tanya jawabnya. (nvt/nvt)











































