Bersama Kita Bisa. Seperti ikan-ikan kelaparan mendambakan datangnya cacing pengusir lapar, rakyat melahap slogan itu. Hap! Kesadaran baru menyeruak ketika sakit, pedih dan sengsara menyusul sesudahnya. Ada kail di baliknya, ternyata cacing itu bukan untuk mereka.
Pelan tapi pasti total kebijakan Bersama Kita Bisa itu lebih sibuk bersama pengusaha pemilik kapital dalam pesta dan perayaaan kemakmuran. Bersama dengan rakyat hanya di depan kamera dan penghias koran, kadang tebar angpau supaya memukau. Hiruk pikuk ekonomi, invetasi sana, investasi sini, rakyat hanya mendengar dan melihat, tak ikut kebagian manfaat. Tapi begitu negara dalam kesusahan, lagi-lagi rakyat yang paling pertama diperas kontribusi dan kewajiban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kurangi kemewahan fasilitas. Dimulai dari DPR, salah satu biang masalah dan pemborosan anggaran. Mengapa benalu satu ini sampai punya sekitar 26 akar penyedot uang rakyat, dari uang sidang hingga uang jas di badan? Lalu presiden hingga bupati. Mengapa harus naik Volvo, Lexus atau Crown? Batasi pemakaian air, listrik dan telepon. Kelebihan rekening penggunaan harus ditomboki kepala bagian. Gotong royong orang kaya bisa dari diversifikasi pajak progresif. 15% dari penghasilan Rp3 juta itu tidak sama beban dengan 15% dari Rp30 juta atau Rp3 miliar. Mampu membeli mobil kedua dan seterusnya artinya mampu membayar pajak lebih mahal dari mobil pertama. Tapi beta sing mau. Lalu bersama siapakah mereka?
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (es/es)











































