Bangsa Kuli Jadi Bangsa Pengemis

Kolom

Bangsa Kuli Jadi Bangsa Pengemis

- detikNews
Jumat, 16 Mei 2008 10:58 WIB
Bangsa Kuli Jadi Bangsa Pengemis
Jakarta - Setahun lalu tatkala saya temui, Sumarno (43) begitu perkasa. Bahu kekarnya kuat memanggul berpuluh sak semen. Bersama 14 kuli seperti dirinya, Sumarno memanggul semen dari truk fuso dialihkan ke kapal yang merapat di pelabuhan Sunda Kelapa. Suatu rutinitas kerja yang menurutnya telah dijalani sejak 10 tahun lampau, sejak pabrik tempat ia bekerja bangkrut dihantam krisis ekonomi.
 
Setahun kemudian, saat saya berjumpa kembali, Sumarno bukanlah lelaki kekar seperti setahun lampau. Sekujur punggung dari bahu sampai pantat atau tulang ekor, telah rapuh. Sudah keropos. Ia menderita encok, rematik, dan tulang punggung yang serba nyeri begitu membawa beban berat. Nampaknya, selain tuntutan profesi sebagai kuli panggul, tubuh Sumarno ikut pula digerogoti efek samping jamu tanpa merek dan berbumbu zat kimia yang banyak berkeliaran. Singkat kata, Sumarno, kata dia, tengah menjalani lakonnya, sesosok kuli yang telah kalah.
 
Sumarno, pria urban asal Pekalongan, kini tinggal  di kolong jembatan Kampung Bandan, tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Beserta istri yang tetap setia, ia tinggal beserta satu anaknya yang masih tanggung. Sementara satu anak lelakinya yg telah dewasa, telah pergi beberapa tahun silam karena tidak mau menjadi beban keluarga.
 
Sejak tubuhnya telah letih untuk memanggul satu persatu sak semen atau berkarung beras, ia menjadi pengemis, setelah sebelumnya gagal jadi pemulung. Terkadang berkolaborsi dengan istrinya, mengemis di daerah Kota, Jakarta Barat.
 
Bagi sebagian orang, sulit membayangkan sosok Sumarno dalam jumlah kolosal, massal dan begitu berjamaah. Menurut data resmi, ada 19 juta Sumarno, 19 juta rakyat miskin papa di negeri ini. Dan "hebatnya", pemerintah akan membagi-bagi uang kepada kaum fakir itu atas nama pengalihan subsidi minyak.
 
Bagi saya, itu bukanlah gaya Robin Hood, melainkan hanyalah penganugerahan predikat "pengemis" bagi 19 juta kepala itu. 19 juta "Sumarno" akan mengaku miskin dan mengantre minta duit, layaknya pengemis, lewat program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Diakui atau tidak, bangsa ini telah bergeser dari bangsa kuli manjadi bangsa pengemis. Duh.... (iy/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads