Penerima BLT: Jangan Naikkan Lagi Harga BBM

Penerima BLT: Jangan Naikkan Lagi Harga BBM

- detikNews
Kamis, 15 Mei 2008 16:28 WIB
Solo - Menaikkan harga BBM hampir pasti dilakukan Pemerintah dalam waktu dekat. Sebagai kompensasi, pemerintah akan menyalurkan lagi bantuan langsung tunai (BLT) bagi warga miskin sebagai kalangan yang paling terdampak. Namun para calon penerimanya justru berharap kenaikan harga BBM itu tak dilakukan.

Budi Santoso, warga RT 3 RW 4, Giripurwo, Wonogiri, berharap Pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga BBM. Alasannya kompensasi yang diberikan Pemerintah bagi warga miskin, termasuk dirinya, dianggap tidak memadai dengan kenaikan harga-harga yang terjadi seiring kenaikan harga BBM.

"Pada tahun 2005 lalu diberi BLT Rp 300 ribu tiap tiga bulan selama setahun. Itu sama dengan Rp 100 ribu tiap bulan. Padahal kenaikan harga-harga seiring kenaikan BBM itu jauh lebih tinggi, sehingga uang BLT itu tidak seberapa membantu," ujar buruh bangunan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika Pemerintah tetap pada keputusannya menaikkan harga BBM, idealnya BLT yang diberikan tidak hanya seharga dengan yang diterimakan tiga tahun lalu. Apalagi jika kenaikan harga BBM hingga mencapai 30 persen seperti yang direncanakan.

"Seharusnya antara Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu tiap bulannya. Selain itu juga ada pemberian sembako karena biasanya harga sembako melonjak cukup drastis dan sulit dicari bersamaan dengan kenaikan harga BBM. Atau mungkin juga ada program pembangunan rumah bagi warga miskin," kata dia.

Pendapat Budi juga dikuatkan oleh Parti, warga Wonogiri yang juga menjadi penerima BLT pada tahun 2005 lalu. Menurutnya bantuan Rp 100 ribu per bulan sangat tidak memadai. Namun dia tidak menyebut kisaran angka BLT yang sesuai untuk kebutuhan hidup sekarang ini.

"Saat ini saja, setiap harinya kami harus mengeluarkan uang tidak kurang dari Rp 20 ribu setiap harinya hanya untuk kebutuhan makan ala kadarnya di desa seperti ini. Nanti kalau benar-benar dinaikkan, saya yakin harga-harga akan melonjak sangat tinggi. Kami akan kesulitan makan," ujar perempuan yang sehari-harinya menerima jasa cuci pakaian tersebut. (mbr/djo)


Berita Terkait