Kejadian tersebut berawal dari aksi pembakaran ban dan penutupan jalan oleh mahasiswa UNM di depan kampusnya, Jl Andi Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (15/5/2008). Para mahasiswa ini menolak rencana kenaikan harga BBM.
Beberapa saat kemudian, polisi yang dipimpin Polwiltabes Makassar Kombes Pol Genot Heriyanto meminta mahasiswa tidak melakukan penutupan jalan. Namun mahasiswa tidak menggubris permintaan itu.
Merasa tidak diindahkan, polisi akhirnya membubarkan paksa demo tersebut. Polisi juga mencoba memadamkan api yang berkobar dari pembakaran ban bekas.
Namun para mahasiswa tidak menyerah begitu saja. Mereka melempari polisi dengan batu dan benda keras lainnya. Aksi demo pun berubah menjadi perang batu antara mahasiswa dan polisi.
Setelah berlangsung hampir 10 menit, mahasiswa akhirnya bisa dipukul mundur ke dalam kampus. Puluhan personel polisi yang sempat menyerbu ke dalam kampus, ditarik keluar kembali.
Tetapi kondisi itu tidak berlangsung lama. Saat Genot mencoba menenangkan mahasiswa di dalam kampus, aksi pelemparan batu kembali terjadi. Hal ini membuat Genot sempat lari menghindar ke dalam sebuah warung.
Aksi pelemparan batu ini ternyata memancing sikap represif aparat. Ratusan personel PHH langsung menyerbu ke dalam kampus dengan menembakkan gas air mata. Suasana menjadi sangat kacau-balau. Sedikitnya 4 orang mahasiswa diamankan. Beberapa kali bogem mentah mampir di wajahnya.
Sekitar pukul 14.15 Wita, bentrokan antara polisi dan mahasiswa reda. Meski demikian, suasana di kampus UNM masih terasa tegang. Ratusan personel polisi masih berjaga-jaga di tempat tersebut. (djo/nrl)











































