Jadwal pun padat selama kunjungan tersebut. Dalam kesempatan tersebut Gus Dur datang untuk menemui senator AS.
Senator tersebut diantaranya Robert Wexler, ketua kaukus anti terorisme Suemyrick, Joe Rockefeller, Christopher Bone (senator berpengaruh menentukan kebijakan politik luar negri amerika).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
"Tahun 1935, atau 10 tahun sebelum Indonesia merdeka, muktamar NU ke 9 di Banjarmasin memutuskan tidak diwajibkan mendirikan negara Islam. Karenanya kita melihat di Indonesia ini agama macam-macam," kata Gus Dur dalam jumpa pers di Kantor DPW PKB, Jl Kalibata Timur, Jakarta, Rabu (14/5/2008).
Untuk itu, lanjut dia, sikap Indonesia soal agama sangat jelas tercantum dalam Pancasila. "Menurut pendapat saya orang-orang sektarian yang mengikuti paham Islam di atas segala-galanya," imbuhnya.
Selain menemui para senator, Gus Dur juga mendapat hadiah medali ksatria (medal of Valor) karena memperjuangkan perdamaian dan toleransi dunia.
Penghargaan tersebut diberikan Yayasan Simon Wiesenthal. Selain Gus Dur, medali yang sama juga diterima mantan uskup gereja anglikan Canterburry, Inggris.
Penghargaan tersebut diterimanya di Los Angeles. Pada acara penghargaan, Gus Dur juga melakukan pertemuan dan makan malam dengan sejumlah produser top Hollywood, seperti Robert Chartoff produser Film Rocky.
Malam penghargaan ini dihadiri sekitar 1.000 orang. Aktor Hollywood seperti Will Smith, Ron Howard, Jeffry Katzenberg tampak hadir dalam acara.
Kunjungan berikutnya adalah Gedung Putih. Di tempat tersebut Gus Dur bertemu Wakil Presiden AS Dick Cheney.
Selanjutnya, Gus Dur juga menceritakan pertemuan dengan pihak Temple University untuk mengabadikan nama dirinya sebagai pusat studi dialog antar agama.
(ptr/nwk)











































