"Itu berita itu tidak benar dan saya tidak pernah mem-back up Nursalim," kata Syamsir di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (14/5/2008).
Akibat berita tersebut, lanjutnya, sebagai warga negara dan pejabat publik, hak hukum dan hak sosialnya terganggu. "Ya tentu akan bikin perhitunganlah," cetus dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dia masih kurang puas jika hanya menerima permintaan maaf. Sebab namanya terlanjur menjadi jelek. Itulah yang membuat dia berpikir untuk melakukan perhitungan.
"Dan menghadapi preman DPR itu kita juga pakai perhitungan secara hukum. Banyak teman-teman yang telepon saya. Saya kan tidak bisa kendalikan teman-teman ini," lanjut Syamsir.
Syamsir mengaku belum melaporkan apa yang dialaminya ke polisi. Dia berencana menggunakan jasa pengacara. Namun belum tentu dia akan melaporkan ke polisi.
"Hak sosial ini kan ada banyak cara, apa secara adat. Kalau namanya ada preman DPR, ya mungkin perlu diberi pelajaran secara preman juga. Nantiย saya tanya pengacara. Saya tidak ngerti motivasinya (Ade Daud Nasution) apa. Karena itu kan fitnah. Kapan saya back up Nursalim?" tuturnya. (nvt/fay)











































