Jika dilihat dari lokasi penangkapannya yang merupakan kawasan elit, mengingatkan kita dengan penangkapan jaringan pengedar psikotropika lainnya seperti shabu-shabu sebanyak 609 kg di rumah mewah Pantai Indah Kapuk (PIK) atau pun penemuan 490 ribu butir ekstasi di Apartemen Taman Anggrek yang diduga melibatkan penyanyi Ahmad Albar.
Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala saat dihubungi detikcom, Selasa ( 13/5/2008) menyatakan, dipilihnya lokasi elit ini karena lokasi itu sangat jauh dari tangan hukum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adrianus mengatakan, sekarang ini yang harus diwaspadai adalah muncul dua kelompok sindikat narkoba di Indonesia. Sindikat ini adalah pengedar dan produsen.
Keduanya tidak saling mengenal namun sama-sama menampung bahan narkoba atau narkoba dari luar yang kemudian mengedarkannya. Peredarannya pun bisa di luar maupun di dalam negeri. "Yang akan membahayakan jika dua kelompok besar ini berkumpul, dan ini sudah terlihat" kata Adrianus.
Sinyalemen ini sudah terlihat dari beberapa penangkapan yang dilakukan polisi. Namun hingga kini, belum diketahui secara persis skalanya seperti apa.
Tapi yang lebih mengerikan jika kedua kelompok besar ini bertemu. Lalu pasar narkoba di luar negeri dari barang yang mereka ekspor tidak terserap semua. "Pasti pilihannya adalah dijual di Indonesia. Sudah pasti Indonedia akan kebanjiran narkoba murah meriah dan perederannya sulit dikontrol lagi," ujar Adrianus.
(mar/nrl)











































