Hartas menyampaikan hal ini saat berbincang-bincang dengan detikcom di sela-sela menghadiri peluncuran buku Amien Rais 'Selamatkan Indonesia!' di Gedung Serbaguna, Senayan, Jakarta, Selasa (13/5/2008). Hartas menorehkan cerita penculikan yang dialaminya ini dalam buku berjudul '40 Hari Digenggam Kekuasaan, Sepenggal Catatan Haryanto Taslam.'
Buku Hartas ini akan diluncurkan Rabu (14/5/2008) besok. Dalam buku ini, Erros Djarot menyampaikan kata sambutan. Sementara Prof Dr Amien Rais dan Prof dr Joese Roesma memberikan kata pengantar. Dalam peluncuran buku nanti, Hartas juga akan menghadirkan Erros Jarot dan Amien Rais untuk berbicara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada tiga alasan mengapa Hartas berketetapan menulis bukunya. Pertama, Hartas menganggap publik sudah saatnya mengetahui apa yang benar-benar terjadi saat itu.
"Kedua, saya juga berharap Megawati, baik sebagai pemimpin partai ataupun sebagai pemerintah, berbicara mengenai itu. Terus terang saya memerlukan 'klarifikasi' seputar peristiwa seperti itu yang konon ada unsur fitnahnya dari inner circle dan dari Mega sendiri," tegas Hartas.
Ketiga, Hartas menilai buku yang ia tulis ini bisa dan perlu dijadikan referensi untuk membangun kehidupan kebangsaan ke depan.
Apa yang Anda inginkan dari Mega? "Saya waktu itu sebagai wakil sekjen PDI. Persoalan yang dikejar, masalah politik PDI ketika itu dianggap melawan penguasa. Memang itu adalah terkait dengan sikap politik partai, bukan pribadi," kata Hartas.
Di dalam bukunya, Hartas juga menjelaskan mengenai proses-proses penculikan dan penyekapan terhadap dirinya selama 40 hari. Pokok-pokok interogasi dari si penculik juga dia beberkan, termasuk perlakuan-perlakuan yang dialami Hartas saat itu.
Apakah sang penculik dari kalangan militer? Hartas tidak tahu. Dia tidak mengetahui siapa penculik, karena saat disekap, matanya selalu ditutup dengan kain. Penutup mata dibuka hanya saat berada di dalam sel. (asy/nrl)










































