Beras Mahal, Rakyat Bangladesh Disuruh Makan Kentang

Beras Mahal, Rakyat Bangladesh Disuruh Makan Kentang

- detikNews
Selasa, 13 Mei 2008 10:15 WIB
Dhaka - Cara ini mungkin bisa dicoba di Indonesia. Pemerintah Bangladesh gencar mengkampanyekan kentang sebagai makanan pengganti nasi. Ini dilakukan karena melonjaknya harga beras dan gandum belakangan ini.

Kampanye ini terbilang sulit. Sebab kentang selama ini sering dilewatkan dalam menu makanan rakyat Bangladesh. Namun pemerintah Bangladesh terus berupaya meyakinkan jutaan warga Bangladesh untuk mengkonsumsi kentang sebagai pengganti makanan pokok.

"Pikirkan kentang, tanam kentang dan makanlah kentang," demikian bunyi salah satu slogan dalam festival kentang yang berlangsung tiga hari di Dhaka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak harga beras melesat, sepertiga dari total penduduk Bangladesh yang berjumlah 140 juta jiwa, terpaksa meniadakan sarapan bahkan juga makan malam. Ini dikarenakan mereka tidak mampu membeli beras dengan harga mahal. Demikian seperti dilansir News.com.au, Selasa (13/5/2008).

Kentang berasal dari Amerika Latin namun kemudian dibawa ke Asia Tenggara melalui Eropa pada sekitar abad 18. Hingga saat ini, kentang umumnya dimakan sebagai bahan sayuran. Padahal kentang merupakan pengganti karbohidrat yang bagus untuk nasi. Namun kebanyakan orang Asia menganggap belum lengkap jika belum makan sepiring nasi.

"Tidak mungkin mengubah kebiasaan makan orang-orang dalam semalam," kata Nazrul Islam, ketua Badan Informasi Pertanian Bangladesh.

"Kentang saat ini tidak bisa menggantikan beras sebagai makanan pokok, namun saya pikir mereka akan segera menyadari bahwa kentang bisa menjadi pengganti beras yang sangat bagus dengan harga rendah yang terjangkau," imbuhnya.

Pemerintah Bangladesh belum lama ini memerintah sekitar 500 ribu tentaranya untuk makan kentang. Diharapkan konsumsi kentang akan meningkat tajam dalam beberapa tahun mendatang. Sebab menurut pakar, mustahil harga beras akan kembali ke harga rendah seperti yang sudah-sudah. (ita/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini