Refleksi Kecewa Perupa Solo

Refleksi Kecewa Perupa Solo

- detikNews
Senin, 12 Mei 2008 13:00 WIB
Solo - Sudah banyak orang yang menyatakan kekecewaan terhadap hasil reformasi politik 1998. Tapi jika yang menyatakan kekecewaan adalah perupa, tentunya bentuknya akan beda dengan ekspresi kekecawaan para politisi atau mahasiswa.

Tiga seniman rupa di Solo yaitu Agussis, Abdul Aziz dan Iwan Kristanto menyatakan ekspresinya itu di bawah patung Slamet Riyadi di Bundaran Gladag, Solo, Senin (12/5/2008) siang.

Mereka mengaku sejak awal mendukung sepenuhnya gerakan reformasi digulirkan pada tahun 1998 lalu, dengan sering terlibat dalam berbagai aksi dan kegiatan menentang Pemerintahan Orde Baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun setelah sepuluh tahun reformasi berjalan, para perupa ini menilai tidak ada perubahan berarti yang dirasakan oleh rakyat. Apalagi bagi rakyat Solo, yang sepuluh tahun lalu menderita kerugian material dan nyawa sangat besar akibat amuk massa.

"Kami kecewa. Sepuluh tahun reformasi berjalan tidak banyak perubahan yang terjadi. Rakyat tetap kesulitan mencari makan. Problem yang dirasakan rakyat saat ini tak jauh beda dengan problem di masa Orde Baru. Itu terjadi karena mentalitas para pengusaanya juga tak jauh berbeda," papar Agussis.

Mereka lalu melukis bersama di badan Jalan Slamet Riyadi sisi selatan. Kuas dan cat menimpa secara improvisatif dan spontan di kain putih sepanjang 27 meter. Sebuah sepeda dipasang terbalik di atasnya dengan roda selalu diputar untuk penggambaran roda waktu yang terus berjalan. (mbr/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads