Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Perwakilan Nias William P Sabandar menyatakan, dari sisi korban, jumlah korban tewas dalam bencana Myanmar yang berjumlah sekitar 23 ribu, tentu tidak sebanding dengan korban tsunami yang mencapai 130 ribu orang.
"Tetapi 23 ribu korban ini sebenarnya jumlah yang sangat banyak. Dibutuhkan tim relawan dalam jumlah yang banyak juga untuk mengatasi persoalan. Menyelamatkan para korban, dan mengebumikan dengan segera korban yang tewas untuk menghindari masalah lainnya," kata William di Medan, Minggu (11/5/2008).
Dalam kasus Indonesia, penanganan relatif lebih cepat, karena Indonesia membuka akses yang selebar-lebarnya bagi bantuan internasional, kendati pada waktu itu kondisi keamanan dan politik di Aceh cukup hangat. Hal ini yang berbeda dengan Myanmar. Negara ini terkesan menutup diri, sehingga banyak banyak lembaga kemanusiaan internasional yang tidak bisa masuk ke Myanmar karena visanya tidak dikeluarkan.
Secara keseluruhan, kondisi geografi kawasan yang terkena bencana di Myanmar, yakni Yangoon dan Irrawaddy, situasinya sama dengan bencana tsunami di Aceh. Dengan situasi seperti itu, kata William, setidaknya butuh waktu satu bulan untuk tanggap-darurat. Tetapi hal itu mustahil dilakukan jika sukarelawan jumlahnya minimal. Jika Myanmar bisa membuka diri, maka penanganan akan lebih cepat dilaksanakan.
Dengan kesamaan geografis dan beberapa situasi lainnya antara Indonesia dan Malaysia dalam bencana ini, kata William, Myanmar bisa mempelajari dan mengadopsi pola penanganan bencana yang dilakukan Indonesia. Penanganan bencana tsunami di Aceh dapat dilakukan dengan sumber daya yang sangat besar, yang melibatkan bukan hanya pemerintah dan masyarakat Indonesia, tetapi juga 25 negara dan lebih dari 80 lembaga donor Internasional. (rul/gah)










































