Bekas Anggota: Khalifah Ahmadiyah Ingkar Janji

Bekas Anggota: Khalifah Ahmadiyah Ingkar Janji

- detikNews
Minggu, 11 Mei 2008 13:40 WIB
Jakarta - Kalangan Ahmadiyah tidak luput dari pertentangan-pertentangan di dalamnya sendiri. Sehingga beberapa di antara pengikutnya memutuskan keluar dan kembali ke ajaran Islam yang diyakini kaum muslim.

Salah satu pengikut Ahmadiyah yang meninggalkan aliran itu adalah Ahmad Haryadi. Selama 13 tahun lebih pria ini menjadi anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Haryadi bergabung dengan Ahmadiyah tahun 1973. Setahun dibaiat, dia dipercaya sebagai mubalig dan mendapat tugas pertama kali mendakwahkan ajaran Ahmadiyah di Medan, Sumatera Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

2 Tahun di Medan, Haryadi dipindahkan ke Jakarta lalu ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 1980. Namun, justru di tempat itulah keyakinan Haryadi mengenai Ahmadiyah goyah.

Ceritanya, Haryadi bertemu dengan seorang ulama di Lombok yang dikenal dengan nama Haji Ervan. Mereka berdebat mengenai kenabian Mirza Ghulam Ahmad, figur yang dianggap pengikut Ahmadiyah sebagai nabi.

"Di sana ada peristiwa perang doa antara saya dengan Haji Ervan. Saya katakan, jika keyakinan saya mengenai Mirza benar, maka dalam 3 bulan saya akan diazab oleh Allah dan saya bersedia dipotong leher saya," ujarnya di acara Tablig Akbar di Masjid Al Barqah Assyafi'iyah, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (11/5/2005).

3 Bulan berselang, Haryadi tidak terkena musibah apa pun. Haji Ervan menggeruduk tempat tinggal Haryadi untuk menagih kata-katanya. Sempat terjadi keributan dalam peristiwa itu, namun polisi dapat mengendalikan situasi.

Kebimbangan Haryadi makin kuat sejak adanya peristiwa itu. Hingga akhirnya saat berada di Malaysia pada April 1986, dia memutuskan keluar dari Ahmadiyah.

Ulah Haryadi membuat pemimpin JAI marah. Namun, hal itu malah ditanggapinya dengan tantangan. Haryadi kebali bertaruh mengenai kenabian Mirza dengan salah satu pimpinan JAI di Indonesia, Tahir Ahmad.

Haryadi bahkan harus berhadapan dengan Khalifah Ahmadiyah yang berada di London, Inggris. Dia membuat perjanjian dengan sang Khalifah, bahwa jika dalam satu tahun dia tidak mati, Khalifah itu bersama pengikut Ahmadiyah di dunia akan meninggalkan Ahmadiyah.

"Itu terjadi pada 16 Oktober 1988. Ini kesaksian saya. Dalam perjanjian jika saya tidak mati dalam waktu satu tahun khalifah Ahmadiyah akan keluar dari Ahmadiyah. Saya selamat hingga kini, namun khalifah itu ingkar janji dan berpura-pura mengutuk Ahmadiyah di Indonesia," imbuh Haryadi yang mengenakan baju koko warna cokelat.

Tablig akbar itu diikuti 500-an anggota Front Pembela Islam (FPI) dan jamaah di sekitar masjid. Tampak juga Ketua FPI Habib Rizieq, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khathath, dan ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaludin. (irw/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads