Kedatangannya pria yang akrab disapa Gus Dur ini di AS selain menerima Medali Simon Wiesenthal Center atas kepemimpinnya dalam LibForAll Foundation dan usahanya dalam memerangi orang-orang yang mengingkari Holocaust di negara-negara muslim, juga bertemu dengan beberapa pejabat politik AS, termasuk Dick Chenney, Wapres AS di Washington DC, serta bertemu dengan kalangan muda muslim di George Washington University.
Ketika ditemui oleh Endang Isnaini Saptorini, kontributor detikcom di AS, sesaat sebelum acara jamuan makan malam di rumah kediaman Duta Besar RI, Sujadnan Parnohadiningrat, Kamis malam 8 Mei 2008, Gus Dur menyatakan senang pada Obama sebagai calon presiden AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gus Dur menjelaskan, Obama berbeda dengan kandidat yang lain, yakni Hillary Clinton maupun John McCain. "Semuanya sudah dikeluarkan. Untuk apa? Kalau McCain jelas nantinya cenderung membantu Israel," imbuh dia.
Ditanyakan lebih lanjut mengenai dukungannya ke Israel, Gus Dur menyatakan "Kalau dihadapkan dengan pilihan-pilihan, tentunya saya akan memilih Israel yang lebih demokratis betul. Jangan seperti sekarang. Palestina dianggap sebagai warga negara kelas dua".
Lalu kenapa harus membuka hubungan diplomatik dengan Israel, Gus? "Lah orang itu ya, kalau kita mau minta dia menghormati kita, ya kitaย harus mau menghormati dia dulu. Gitu saja kok enggak cocok. Bermusuhan itu kan ya enggak bener", selorohnya kepada pers yang berkumpul di Wisma Indonesia.
"Saya dari dahulu selalu berpendapat, bahwa Israel itu percaya pada Tuhan yang Maha Esa. Tidak seperti negara Uni Soviet maupun RRC. Kalau dengan mereka saja kita bisa membuka jalur diplomatik, kenapa dengan Israel tidak. Itu kan aneh," imbuh Gus Dur.
Sikap bangsa kita terhadap bangsa Yahudi di AS yang negatif, bisa diperbaiki tidak dengan cara negatif. "Untuk memperbaiki seseorang itu, juga harus dengan lebih dahulu kita menunjukkan bagaimana sikap kita terlebih dahulu kepada dia (Yahudi). Kalau marah dibalas marah, lalu akan apa jadinya," imbuh dia.
Kalau Obama menang, apa pengaruhnya buat Indonesia, Gus? "Kita harus mengutamakan kepentingan negara kita dulu sajalah. Bukan kepentingan Amerika. Siapa pun Presidennya (AS), kita lihat saja nanti," pungkas Gus Dur.
Dari Washington DC, Gus Dur dan rombongan akan menuju New York untuk bertemu dengan masyarakat Indonesia sebelum bertolak ke Tel Aviv pada tanggal 12 Mei atas undangan George W Bush untuk menghadiri 60 tahun Israel dan mengikuti koferensi "facing tommorow", pertemuan para pemimpin dunia yang akan diselenggarakan di Yerusalem dari tanggal 13 hingga 15 Mei 2008. (mly/mly)











































