"Saat ini Myanmar mengutamakan bantuan logistik dan berusaha sekuat tenaga untuk mengirimnya secara cepat dengan pekerja kita sendiri ke wilayah yang terkena dampaknya," jelas Menlu Myanmar dalam surat kabar setempat seperti yang diberitakan AFP, Jumat (9/5/2008).
Badai Nargis telah memporakporandakan Myanmar. PBB memperkirakan lebih dari satu juta orang kehilangan anggota keluarga dan harta bendanya.
Mayat-mayat dan bangkai hewan bergelimpangan di wilayah selatan delta Irrawaddy yang merupakan daerah terparah diterpa badai. Bau busuk mayat terasa menusuk hidung di banyak tempat.
Myanmar sudah terang-terangan mengumumkan butuh bantuan internasional. Tetapi, rupanya pemerintahan Myanmar masih menutup diri karena takut negaranya diobok-obok kepentingan asing.
"Myanmar belum siap untuk menerima sukarelawan kemanusiaan dan wartawan asing dari negara lain," kata menlu Myanmar.
Jumlah korban tewas akibat Badai Nargis berbeda antara yang dirilis pemerintah Myanmar dengan lembaga asing. Pemerintah AS memperkirakan korban tewas Badai Nargis 100 ribu orang, namun pemerintah Myanmar mengumumkan hanya 17 orang yang tewas.
Bantuan logistik sudah berdatangan dan sudah diterima oleh Myanmar. Tetapi tidak dengan pekerja sosialnya. Lewat media nasionalnya, pemerintah Myanmar mengumumkan telah mendeportasi beberapa warga negara Qatar yang hendak memberikan bantuan kemanusiaan. (gah/nrl)











































