Apa yang Salah, Hillary?

Apa yang Salah, Hillary?

- detikNews
Jumat, 09 Mei 2008 11:30 WIB
Washington - Bakal Capres AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton semakin sulit mengejar saingannya, Barack Obama. Sejumlah analis bahkan menilai Hillary seperti pasien dengan alat bantu pernafasan.

Tema kampanye Obama kini lebih unggul dan lolos uji berbagai perdebatan. Selain itu, tim kampanyenya solid menyusun strategi dan mengumpulkan dana. Kebalikannya, kampanye Hillary sudah antiklimaks. Beberapa suara memintanya mundur dari perebutan kursi Capres Partai Demokrat.

Tim kampanye Hillary bertaruh memperebutkan suara rakyat AS yang benci dengan perang Irak, kecewa dengan penanganan bencana topan Katrina, takut dengan resesi ekonomi, dan kagum dengan pengalaman politik Hillary.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Obama ternyata lebih unggul merebut suara Demokrat dengan mengincar pemilih muda, masyarakat kulit hitam dan kulit putih AS sekaligus, dan mereka yang tertarik dengan semangat pembaruan politik. Citra orang lama terlanjur melekat dalam diri Hillary.

Sejumlah analis seperti dilansir AFP, Jumat (9/5/2008) juga menilai kesalahan Hillary yang mengandalkan pengalaman politik keluarga Clinton. Pemilu adalah saatnya masyarakat memimpikan masa depan, bukan masa lalu. Sesuatu yang dijawab dengan slogan Obama, 'Harapan' dan 'Perubahan'. Parahnya lagi, saat Obama bertahan dengan slogannya, Hillary kerap berganti-ganti slogan.

"Strategi kampanye Obama sangat cerdas. Mereka bisa kalah di negara bagian tapi masih bisa mendapatkan suaranya," kata Profesor Sejarah Princeton University, Julian Zelizer.

Obama unggul dalam strategi pengumpulan dana dengan menggerakan massa akar rumput yang rata-rata menyumbang kurang dari 100 dollar, namun bisa berulang-ulang. Internet digunakan dengan baik untuk menggalang dana dan dukungan suara. Sedangkan Hillary menggunakan donor kampanye konvensional yang lebih mengandalkan jaringan partai.

Meskipun kekalahan Hillary sudah di depan mata, dia mencatat sejumlah sejarah. Dia menjadi perempuan dengan karir politik paling sukses di AS. Dia pun menjadi politisi Demokrat yang paling sukses meraih suara pemilih perempuan dan kaum buruh. (fay/nrl)



Berita Terkait