Di forum itu, Sutiyoso yang mencalonkan diri sebagai calon presiden (capres) pada Pilpres 2009 bercerita seputar pengalamannya saat memimpin di TNI maupun gubernur. Ary Suta, selaku tuan rumah mengatakan, kalau acara diskusi yang diselenggarakan lembaganya merupakan agenda rutin dan lepas dari masalah politik. Sebab ASC, kata Ary bukan lembaga kajian politik, namun merupakan lebaga kajian tentang kepemimpinan.
Namun karena yang datang merupakan salah satu capres yang akan bertarung pada Pilpres tahun depan, mau tidak mau suasana kampanye jadi lebih terasa. Malah di sesi akhir acara, yang berisi agenda tanya jawab, sejumlah peserta umumnya menanyakan seputar program dan sikap Sutiyoso jika kelak menjadi presiden. Dan dengan taktis dan lugas Sutiyoso menjawab semua pertanyaan peserta. "Sutiyoso figur pemimpin yang tepat untuk Indonesia. Ia tegas, berani dan punya prinsip. Contoh kongkretnya di Jakarta saat ia memimpin," kata Adler Haymans Manurung, direktur salah satu perusahaan securitas, yang ikut hadir dalam acara tersebut.
Bukan cuma Adler, mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Ary Suta juga menyatakan kekagumannya terhadap jiwa kepemimpinan Sutiyoso. "Jadi seorang pemimpin memang harus berani, tegas dan siap untuk tidak populer," kata Ary Suta di akhir acara diskusi.
Bagi Sutiyoso, sikap-sikap yang telah ia lakukan saat menjadi pemimpin, baik di TNI dan birokrat memang menjadi modal utamanya untuk berani tampil dalam ajang Pilpres. Karena sikap tegasnya pula ia berani mendeklarasikan diri sebagai calon presiden jauh-jauh hari, meskipun saat itu belum ada kendaraan politik yang akan membawanya. Setelah deklarasi Sutiyoso baru mulai bergerilya mencari dukungan sejumlah parpol.
Saat ini baru dipastikan lima parpol kelas teri yang siap mengusungnya menjadi capres. Tapi Sutiyoso tidak patah semangat untuk mencari dukungan ke sana-sini. "Modal saya adalah pengalaman memimpin dan mampu berkomunikasi dengan berbagai tingkatan masyarakat. Apalagi dari kunjungan saya ke daerah sangat positif. Itu yang membuat saya semakin bersemangat," ungkapnya.
Sekalipun belum mendapat dukungan dari parpol-parpol besar, satu per satu dukungan datang kepadanya. Mereka bukan hanya berasal dari dalam negeri, dari luar negeri suara dukungan juga ia peroleh. Sebut saja kedatangan Dubes AS untuk Indonesia Cameron R Hume dan Dubes Australia Bill Farmer. Kedatangan mereka, ujar Sutiyoso, sebagai bentuk dukungan moral.
Dalam kunjungannya ke markas Sutiyoso Center di Jalan Diponegoro 43, Dubes Australia bahkan sempat menyatakan kekagumannya karena dari hasil survei lembaga penelitian dan pengembangan sebuah media nasional yang menyebutkan bahwa nama Sutiyoso lebih unggul dibanding tokoh-tokoh nasional yang lain. Survei dilakukan terhadap pimpinan parpol tersebut nama sutiyoso berada di urutan pertama.
Kepada Farmer, Sutiyoso menjelaskan, selama ini komunikasi yang dilakukan dengan sejumlah tokoh politik tidak mengalami banyak masalah. Ia lantas menceritakan soal pengalamannya saat menjabat Gubernur DKI Jakarta. Pasalnya, saat menjabat ia berasal dari kalangan independen bukan dari parpol. Namun ternyata semua program yang ia jalani tidak banyak mendapat kendala di legislatif. "Tidak ada upaya pelengseran terhadap saya. Dan APBD bisa cepat dicairkan untuk melaksanakan program," ujar Sutiyoso.
Hal semacam ini selalu dimunculkan Sutiyoso dalam menjawab sikap pesimisme beberapa kalangan yang menyatakan bila Sutiyoso jadi presiden akan bernasib sama seperti SBY, yakni selalu mendapat serangan dari kalangan legislatif. Sebab saat maju dan memenangkan Pilpres 2004, SBY hanya didukung partai-partai kecil.
"Saat menjabat sebagai gubernur saya sering melakukan pendekatan kemanusiaan kepada legislatif. Hampir setiap pagi mereka coffee morning di rumah saya. Dari pertemuan itu saya dan legislatif bisa saling terbuka. Sehingga timbul saling pengertian saru sama lain," jelasnya. Tapi, imbuh Sutiyoso, saling pengertian di sini bukan sama-sama menggerogoti APBD.
Hariman Siregar, mantan aktivis mahasiswa tahun 70-an menilai sosok Sutiyoso, selain punya ketegasan juga sangat kooperatif dan mudah untuk berkomunikasi. Sikap seperti ini, kata Hariman, sangat dibutuhkan untuk menjadi pemimpin saat ini. Namun yang ia sayangkan, Sutiyoso bukan berasal dari parpol besar. Sehingga langkah untuk maju ke Pilpres lumayan berat. "Sudah layak-lah Sutiyoso menjadi presiden. Tapi memang ia harus mencari dukungan parpol besar supaya bisa ikut Pilpres," ujar aktivis Malari tersebut. (ddg/iy)











































