Enggan Menjadi Orang Kedua

Menghitung Peluang Sutiyoso (2)

Enggan Menjadi Orang Kedua

- detikNews
Kamis, 08 Mei 2008 11:26 WIB
Enggan Menjadi Orang Kedua
Jakarta - Untuk saat ini kendaraan politik Sutiyoso untuk menuju arena Pilpres bukanlah kendaraan besar. Sejauh ini yang sudah positif mendukung Sutiyoso baru sebatas lima parpol kelas teri yang lolos verifikasi, yakni Partai Kedaulatan, Partai Kongres, Partai Republikan, Partai Indonesia Sejahtera dan Partai Pemersatu Bangsa. Namun belasan parpol baru yang tidak lolos verifikasi sepakat untuk meleburkan diri untuk tetap mendukung Sutiyoso di ajang Pilpres. Meski demikian Sutiyoso merasa dukungan parpol-parpol gurem belumlah cukup untuk menghadapi kekuatan parpol-parpol besar.

Sadar kalau kendaraannya masih kecil Sutiyoso kemudian mendatangi sejumlah parpol yang besar-besar. Tapi persoalannya, partai-partai besar sudah punya calon-calon sendiri. Misalnya PDIP yang jauh-jauh hari sudah menetapkan ketua umumnya Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden. Sedangkan Partai Golkar, kini sedang sibuk pilah-pilih antara menjagokan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla atau memajukan sang ketua umum Jusuf Kalla untuk maju sebagai capres.

Pilihan Bang Yos, begitu ia akrab disapa, akhirnya ke parpol-parpol kelas menengah seperti PAN dan PKS. Kedua parpol ini meski pada Pemilu 2004 jumlah perolehan suaranya tidak seberapa, namun akhir-akhir ini kinerja mesin politiknya cukup tokcer. Terutama PKS, yang dalam beberapa pilkada mampu mempecundangi kekuatan parpol besar, seperti dalam Pilgub Jawa Barat dan Sumatera Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini PAN dan PKS sudah memberikan sinyal positif," kata Sutiyoso. Salah satu buktinya, lanjutnya, PKS mengundang dirinya di ulang tahun partai itu di Gelora Bung Karno, Minggu 4 Mei lalu.

Pandangan Sutiyoso tersebut juga diakui Ketua Fraksi PKS Mahfud Sidik. Menurutnya, kedatangan Sutiyoso ke acara Milad PKS merupakan langkah awal untuk penjajakan dukungan PKS terhadap Sutiyoso di Pilpres 2009. "Tapi saat ini PKS belum bisa memutuskan apakah akan mendukung Sutiyoso. Karena masih menunggu keputusan majelis syura dan hasil pemilu legislatif," jelas Mahfud kepada detikcom.

Meski demikian PKS mengakui kalau sosok Sutiyoso memang layak diperhitungkan dalam Pilpres mendatang. Sebab Ia dinilai punya catatan yang cukup bagus dalam memimpin Jakarta saat menjadi gubernur. Selain itu Sutiyoso juga dinilai punya ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan.

Begitupun dengan PAN, sekalipun Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir sebelumnya sempat mengatakan kalau PAN siap menjadi kendaraan politik Sutiyoso, tapi setelah itu Bachir mengusung Sultan Hamengku Buwono X sebagai Capres. Bahkan belakangan Bachir terkesan ingin maju sendiri dengan mengiklankan diri di televisi. "Saya tidak kaget. Itulah dinamika politik," ujar Sutiyoso.

Sekalipun sejumlah parpol masih bersikap menunggu, namun dengan berbekal parpol kecil di belakangnya, Sutiyoso terus bergerilya melakukan sosialisasi. Selain menyambangi sejumlah tokoh parpol, ia juga rajin mengunjungi para koleganya yang menjabat gubernur di sejumlah daerah. Maklum ia adalah bekas ketua umum Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia. Salah satu gubernur yang saat ini sedang dibidiknya adalah Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad.

Beberapa kalangan sempat menyebut, Fadel dinilai layak untuk mendampingi Sutiyoso menjadi cawapres. Pasangan Sutiyoso-Fadel dianggap sangat harmoni karena dianggap bisa saling mengisi, yakni unsur militer-sipil, militer-pengusaha dan Jawa-luar Jawa. "Kalau untuk cawapres saya menginginkan yang usianya lebih muda dan tahu tentang ekonomi," jelas Lulusan Akademi Militer Nasional 1968 ini. Tapi hal itu bukan harga mati. Sebab, imbuh bekas Komandan Korem Terbaik Se- Indonesia, tahun 1994 ini, bisa saja nantinya yang muncul dari kader parpol yang mendukungnya.

Sekalipun punya potensi yang cukup kuat namun beberapa kalangan banyak yang mengaku pesimis jika Sutiyoso bisa maju ke Pilpres 2009, apalagi memenangkannya. Sebab, kata Lili Romli, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dari peta politik yang terlihat, dukungan parpol kecil yang ia miliki tidak cukup signifikan. Sekalipun ia ke depan mendapat dukungan dari PAN. "Perolehan suara PAN pada pemilu lalu sedikit sekali. Jadi tidak begitu berpengaruh," jelas Lili.

Lain halnya jika PKS memastikan diri untuk mendukungnya. Sebab mesin politik PKS cukup solid dibanding parpol-parpol lain yang ada saat ini. Hal tersebut bisa dilihat dari sejumlah pilkada yang berhasil dimenangkannya. Tapi masalahnya, PKS mengerti betul potensi dirinya. Mereka akan sangat hati-hati dan memperhitungkan langkah politiknya terkait capres. Sebab pertarungan politik di Pilpres merupakan ajang bergengsi bagi setiap parpol.

Bukti kehati-hatian PKS terlihat dengan diundangnya sejumlah capres, seperti Wiranto, Akbar Tandjung, dan Sutiyoso, dalam acara ulang tahunnya yang ke 10 di Gelora Bung Karno. Bahkan SBY ikut menyempatkan diri memberikan sambutan di acara tersebut. Belakangan sempat muncul wacana kalau PKS akan mengusung Hidayat Nurwahid untuk mendampingi SBY dalam Pilpres. "Prinsipnya PKS merupakan partai terbuka bagi capres-capres yang ada, termasuk SBY. Tapi kepastiannya akan kami putuskan setelah pemilu legislatif," ujar Mahfud Sidik.

Jika PKS urung memberi dukungan, bisa dipastikan ambisi Sutiyoso untuk maju ke Pilpres semakin berat saja. Bahkan ia terancam tidak akan lolos untuk maju ke arena Pilpres. Lantas bagaimana peluangnya jika ia menjadi cawapres? Menurut Muhammad Qodari Direktur Eksekutif Indo Barometer, Sutiyoso tidak akan suka kalau harus menjadi cawapres. Sebab yang jadi tujuannya hanya capres.

Anggapan ini juga ditegaskan Sutiyoso kepada detikcom saat ia berkunjung ke Ary Suta Center, Rabu 7 Mei kemarin. Ia mengatakan enggan menjadi orang nomer dua. Sebab ia menilai potensi yang ia miliki adalah potensi untuk memimpin organisasi, misalnya di pemerintahan.

Dengan bekal yang ia miliki itu, Sutiyoso berkeinginan untuk mengabdi menjadi orang nomer satu di republik ini. Soal bekal jiwa kepemimpinan yang ia punya bukan omong kosong belaka. Soalnya ia punya pengalaman di militer selama 29 tahun. Sedangkan di birokrat selama 10 tahun. Dalam menjalankan tugas-tugasnya itu catatan prestasinya boleh dibilang lumayan.

Nah, berbekal pengalaman 39 tahun plus sederet prestasi yang sempat ia toreh dalam hal kepemimpinan, ia merasa yakin bisa menjalankan roda pemerintahan, jika nanti terpilih jadi presiden."Jika saya hanya jadi wapres, ketegasan keberanian yang saya miliki tidak akan keluar. Karena wapres bukan pengambil keputusan,"begitu kata Sutiyoso. (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads