Sebuah Harapan Di Tengah Krisis

Menghitung Peluang Sutiyoso (1)

Sebuah Harapan Di Tengah Krisis

- detikNews
Kamis, 08 Mei 2008 10:04 WIB
Sebuah Harapan Di Tengah Krisis
Jakarta - Raut wajahnya terlihat datar ketika melihat layar lebar yang berisi hasil survei yang dirilis sebuah media cetak nasional. Dari hasil survei yang ditampilkan dalam acara diskusi yang dilakukan sebuah televisi swasta itu, Bang Yos sapaan akrab mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, tingkat popularitasnya di masyarakat masih jauh di bawah tokoh-tokoh lain yang juga akan maju dalam Pilpres 2009.

Berdasarkan hasil survei persentase popularitas Bang Yos memang belum seberapa. Tingkat popularitasnya masih berkisar 4% hingga 7 %, jauh di bawah para tokoh nasional seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri dan Hamengkubuwono X. Tapi herannya, berdasarkan survei yang dilakukan sebuah media cetak di Jakarta terhadap para petinggi parpol, yang terdiri dari ketua umum dan sekjen, Sutiyoso menempati urutan teratas sebagai tokoh yang dipopulerkan untuk menjadi presiden.

Menurut survei tersebut, Sutiyoso dianggap sebagai tokoh alternatif cukup menonjol, sekalipun waktu menjabat Gubernur DKI Jakarta banyak kebijakan yang ia buat mengundang kontroversi. Tapi setidaknya sosok Sutiyoso memberikan sebuah harapan baru. Sebab ia dinilai sebagai sosok yang berani dan tegas dalam bersikap. Belum lagi para pesaingnya, misalnya Megawati dan SBY, dianggap beberapa kalangan, kurang berhasil dalam menjalankan roda pemerintahan. Terutama SBY yang dinilai kurang berani dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang bersifat strategis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini masyarakat sangat butuh figur pemimpin yang bisa berbuat sesuatu. Karena saat ini kondisi bangsa sedang mengalami krisis," jelas Sosiolog Universitas Indonesia, Thamrin Amal Tamagola yang juga hadir dalam acara diskusi tersebut. Ia kemudian menyebutkan, salah satu calon pemimpin yang masuk kriteria ini salah satunya adalah Sutiyoso, yang sempat menjadi gubernur. Sedangkan Presiden SBY, kata Tamagola, hanyalah pemimpin yang hanya bisa berwacana.

Sementara Sukardi Rinakit, Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) melihat, ada dua faktor yang membuat Sutiyoso layak diperhitungkan dalam pertarungan Pilpres 2009. Pertama, karena di Indonesia saat ini sedang krisis tokoh. Yang kedua, kemungkinan antara Sutiyoso dan sejumlah papol sudah ada komunikasi politik. Namun Sukardi mengingatkan, parpol-parpol tak akan selalu konsisten dengan pilihannya saat ini. Sebab bisa saja saat hari H nya tokoh-tokoh parpol akan berubah pikiran dan mendukung calon yang lebih berpeluang.

Kemungkinan ini juga jadi perhatian Sutiyoso. Tak heran kalau Sutiyoso tidak begitu tergantung dengan hasil survei. "Hasil-hasil survei yang ada masih berupa hitung-hitungan. Semua bisa berubah karena politik itu dinamis," kata Sutiyoso saat berbincang dengan detikcom usai mengikuti acara diskusi di Crown Plaza Hotel, Jakarta, Rabu, 7 Mei lalu. Apalagi, lanjut Sutiyoso, yang akan memilih presiden nantinya adalah rakyat yang belum tentu menjadi responden dari sejumlah lembaga survei.

Untuk itu ia mengaku akan lebih memfokuskan langkahnya dengan mendatangi sejumlah daerah untuk melakukan sosialisasi. Sejauh ini mantan Gubernur DKI Jakarta selama dua periode tersebut sudah melancong ke sejumlah daerah. Dari hasil kunjungannya tersebut ia berkesimpulan kalau rencana pencalonan dirinya mendapat respon yang positif dari masyarakat. Hal itulah yang membuat Sutiyoso merasa yakin namanya bisa diperhitungkan dalam pertarungan Pilpres mendatang.

Secara terbuka Sutiyoso mengatakan, kunjungan dirinya ke sejumlah daerah merupakan safari politiknya terkait keinginannya menjadi capres. "Dibanding harus beriklan di televisi atau lewat media promosi lainnya, cara seperti ini jauh lebih murah dan efektif," ujar Sutiyoso.

Ia juga mengaku sengaja jauh-jauh hari telah mendeklarasikan diri sebagai capres dan berkeliling daerah mengingat lawan-lawan yang akan dihadapi merupakan tokoh-tokoh lama, seperti Megawati, Wiranto dan SBY. Ketiga capres ini sebelumnya maju dalam Pilpres 2004. Dari ketiga tokoh tersebut, Sutiyoso menilai saingan terberatnya adalah SBY. Sebab sebagai calon incumbent, sosok SBY tentunya jauh lebih dikenal di masyarakat.

Selain keberadaan tokoh-tokoh tersebut, Ia juga akan dihadang soal syarat dukungan suara parpol. Sebab sejauh ini ia belum memiliki kendaraan politik yang pasti untuk mengantarkannya ke arena Pilpres. Apalagi angka syarat dukungan yang harus ia kantongi cukup besar. Berdasarkan daftar isian masalah (DIM) yang masuk dalam RUU Pilpres, angka dukungan yang disyaratkan berkisar 15% sampai 30%. "Angka itu masih dalam penggodokan dan kami berharap persentasenya akan lebih kecil," kata Mahfud Sidik dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera kepada detikcom.

Besaran syarat suara dukungan parpol saat ini masih menjadi perdebatan di Pansus RUU Pilpers. Beberapa parpol besar, seperti PDIP dan Partai Golkar menginginkan syarat dukungan sebanyak 30%. Mereka beralasan dengan besarnya dukungan di legislatif presiden mendatang bisa bekerja lebih efektif dan tidak selalu direpoti oleh "pertarungan" dengan DPR, seperti sekarang.

Namun bagi parpol-parpol seperti PKS dan PAN, keinginan parpol besar tersebut merupakan sebuah agenda untuk memudahkan calon yang akan diusung oleh partai-partai besar tersebut. Mahfud mengatakan, secara teoretis untuk membangun pemerintahan yang kuat harus mendapat dukungan yang kuat pula di parlemen. Namun, dalam kenyataan pada pemilu 2004 lalu, pilihan masyarakat dalam pemilu legislatif dan Pilpres berbeda. "Persoalan calon partai yang suaranya lebih kecil harus didukung oleh partai yang lebih besar di tengah jalan harus diakhiri," imbuh Mahfud. Untuk itu PKS akan berjuang agar syarat dukungan parpol atau gabungan parpol cukup 20% saja.

Bisa dibilang langkah Sutiyoso untuk meju ke arena Pilpres bukan perkara mudah. Namun Sutiyoso tetap pede bisa menghadapi rintangan itu. Ia berkeyakinan kalau pengalamannya sebagai Gubernur DKI Jakarta selama dua periode bisa dijadikan pijakan untuk mengantarkannya ke kursi presiden. Kita lihat saja.
(ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads