Mimpi Ani SBY-Mimpi Kita Sama?

Kolom

Mimpi Ani SBY-Mimpi Kita Sama?

- detikNews
Kamis, 08 Mei 2008 08:46 WIB
Mimpi Ani SBY-Mimpi Kita Sama?
Jakarta - Ibu Negara Ani Yudhoyono mempunyai mimpi yang sungguh mulia. "Mimpi saya Indonesia sejahtera," kata Ibu Ani. Jeng Jeni teringat mimpi ibu negara saat ia bergelantungan di bus kota. Perempuan yang setiap hari naik bus kota itu tersenyum senang. Ia membayangkan, jika Indonesia sejahtera, ia tidak akan lagi berdesak-desakan di buskota.

Tapi bisakah Indonesia menjadi negara sejahtera? Pikir Jeng Jeni. Maka sepanjang perjalanan ke toko buku tempatnya bekerja, Jeng Jeni sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia lalu ingat sejumlah prediksi penuh optimisme tentang masa depan Indonesia.

Price Waterhouse Coopers (PWC) pernah memprediksikan Indonesia akan menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Tapi waktunya masih lama, yakni pada 2050. Menurut PwC, pada 2050 itu perekonomian Indonesia akan menjadi perekonomian keenam terbesar dunia setelah AS, Cina, India, Jepang, dan Brasil. Jeng Jeni juga tidak lupa dengan optimisme Presiden SBY tentang visi Indonesia 2030. Tahun lalu, SBY menyatakan Indonesia bisa masuk dalam jajaran ekonomi lima besar dunia pada 2030.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jeng Jeni lantas mengkalkulasi modal yang dimiliki Indonesia untuk menjadi negara kaya. Indonesia, negeri yang saya cintai ini, pikir Jeng Jeni, memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah ruah. Indonesia merupakan penghasil bahan tambang terbesar dunia. Menurut data PwC, yang sempat dibaca Jeng Jeni di internet, Indonesia merupakan penghasil timah nomor satu di dunia. Penghasil batu bara nomor tiga di dunia. Penghasil 80% minyak di Asia Tenggara dan penghasil 35 % gas alam cair di dunia. Selain kekayaan alam, jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat dunia.

Jadi Indonesia sebenarnya mempunyai modal besar untuk menjadi negara sejahtera dan kaya raya. Kalau disertai usaha keras dari semua elemem bangsa, dari kawula alit sampai penguasa, semua bersatu padu, mempunyai mimpi yang sama yakni Indonesia sejahtera, satu visi, satu tujuan, bersikap jujur, lurus dan profesional untuk mewujudkan mimpi Indonesia sejahtera, pasti prediksi Indonesia menjadi negara kaya dunia akan menjadi nyata.

"Prediksi itu pasti bukan sekadar mimpi indah, tapi takdir bagi Indonesia," batin Jeng Jeni, sok yakin. Maklum, setelah membaca The Alchemist karya Paulo Coelho, Jeng Jeni menjadi sangat percaya akan takdir. Novel itu menginspirasi Jeng Jeni untuk menemukan takdirnya. Jeng Jeni meresapi takdir akan terwujud bila seseorang mempercayai mimpinya dan tidak pernah berhenti mengejarnya. "Janganlah berhenti bermimpi. Kalau kau menginginkan sesuatu, seisi jagat raya akan bekerjasama membantumu memperolehnya." Itulah salah satu kutipan di Alchemist yang menjadi favorit Jeng Jeni.

"Kamu terlalu banyak baca fiksi Jeng. Bacalah buku teori ekonomi, manajemen, politik dan sejarah. Kamu akan tahu tidaklah gampang untuk mewujudkan kesejahteraan suatu bangsa. Butuh waktu panjang. Rasionallah! Ini dunia nyata, bukan fiksi," Jeng Jeni terngiang-ngiang omongan Mas Hari, suaminya. Padahal saat ini Jeng Jeni sedang tidak bersama Mas Dosen itu.

"Ya aku tahu. Tapi mimpi, apalagi mimpi yang baik, itu penting karena akan selalu menerbitkan harapan dan menjaga orang untuk tidak berputus asa," sergah Jeng Jeni kesal dengan suara-suara sang suami yang terus mendatanginya.

"Jangan mimpi terus. Lihat realitas. Kamu bilang jumlah penduduk yang besar menjadi modal. Tidak tahukah kamu, pada tahun 2000, sebanyak 70 % penduduk Indonesia hanya lulus SD? Dengan kondisi memprihatinkan seperti itu, penduduk bukanlah modal tapi justru menjadi beban. Lalu lupakah kamu, meski kaya sumber alam, Indonesia merupakan salah satu negara terbesar tingkat korupsinya? Negaramu ini, menurut Transparency International, menempati urutan nomor 6 terkorup di dunia," ujar Mas Dosen.

"Kemudian kamu mengkhayal pemerintah, DPR, rakyat dan semua elemen bangsa mau bersatu padu dan bersama-sama mewujudkan Indonesia sejahtera? Ha ha ha ha , yang benar saja! Yang ada hanya mereka cakar-cakaran sendiri. Lah kok bisa Indonesia masuk menjadi negara terkaya dunia? Iya jadi negara kaya, yang kaya pejabatnya saja," suara sinis Mas Hari terngiang lagi.

Jeng Jeni tahu ia harus berpijak pada realitas dan bersikap rasional. Tapi ia tidak ingin sikap rasional justru membunuh optimismenya. "Sudahlah Mas, diam sebentar. Aku percaya, pada suatu hari nanti negeri ini pasti akan berubah. Akan tiba waktunya seorang pemimpin yang tegas, cerdas dan berpihak pada rakyat memimpin negeri ini. Tidak akan ada lagi korupsi. Semua rakyat dan pejabat seia sekata, bahu membahu bekerjasama untuk kepentingan bangsa. Jadi biarkan saja aku tetap optimis. Optimisme itu membuat hidup lebih bersemangat dan indah." batin Jeng Jeni. Kali ini Jeng Jeni yakin, ia tidak salah.

Jeng Jeni lantas terkantuk-kantuk. Lamat-lamat Jeng Jeni berhalusinasi mendengar bisikan Hiroku, anaknya. "Teruslah optimis bunda. Dengan optimis, kata bunda, meski hidup susah, kita tetap bisa bahagia. Dengan bahagia, kita bisa terus tertawa. Dan jika tertawa jadi cantik bunda." Terngiang ucapan Hiroku, Jeng Jeni tersenyum.

Ia lantas bersiap turun. Ketika akan turun dari bus, iseng Jeng Jeni mengintip koran yang dibaca salah satu penumpang. Judul berita tertulis: "Harga BBM Naik Maksimal 30 Persen". Gubrak! Jeng Jeni tersentak. Ia sebenarnya bisa paham harga BBM harus dinaikkan untuk menyelamatkan anggaran pendapatan dan belanja negara. Yang sulit diterima tapi sudah dihafal Jeng Jeni, setiap kali harga BBM naik, otomatis semuanya juga ikut naik. Dan seringnya gila-gilaan. Ongkos buskota naik, harga kebutuhan pokok juga naik. Padahal gaji tidak naik. Terbayang semua itu, Jeng Jeni tidak lagi bisa tersenyum, apalagi tertawa.

Keterangan penulis:
Iin Yumiyanti adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(iy/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads