Tentara Berdiam, Biksu Bergerak

Topan Nargis di Myanmar

Tentara Berdiam, Biksu Bergerak

- detikNews
Rabu, 07 Mei 2008 23:50 WIB
Yangon - Berhari-hari sudah rakyat Myanmar menderita akibat badai topan Nargis. Pemerintah entah di mana. Namun syukurlah masih ada biksu-biksu Budha.

Seperti dilaporkan AFP, Rabu (7/5/2008), ratusan biksu dengan membawa kapak menolong penduduk membersihkan pepohonan dan reruntuhan akibat topan. Mereka penolong di tengah minimnya perhatian junta militer Myanmar.

Banyak pohon tercabut dari akarnya, merusak rumah dan mobil. Atap-atap rumah tercabut dan bertebaran di mana-mana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sekarang mengandalkan biksu-biksu untuk membersihkan jalan," ujar seorang warga di Yangon barat, menceritakan kondisi pahitnya di negeri junta itu.

"Tentu kami menginginkan pemerintah datang, namun mereka tak pernah kelihatan. Biksu-biksu inilah yang datang setelah topan terjadi, menolong penduduk membersihkan jalan dan memindahkan pohon-pohon," tambah perempuan yang berusia 40-an tahun itu.

"Rumah saya telah hancur, sekarang tak ada tempat tinggal. Kami tak punya uang memperbaiki rumah dan tak punya uang membeli makanan. Saya marah pada pemerintah karena tak ada bantuan dari mereka untuk kami," cerita Khin Hla (75), penduduk distrik Bagon Utara yang rumahnya hancur.

Dua orang ini adalah suara mayoritas rakyat Myanmar yang kecewa dengan pemerintahan junta militer yang memiliki 400 ribu personel tentara itu. Kekecewaan yang semakin bertambah pasca peristiwa September 2007 lalu, saat tentara menembaki rakyat dan biksu.

Sopir taksi Maung Maung menceritakan kembali kepahitan itu. Banyak warga Yangon yang marah karena juga tak diperingatkan soal topan yang setidaknya membunuh 22 ribu orang itu.

"Rakyat sangat marah dengan pemerintah. Rakyat ingin memprotes namun takut ditembak militer," kata Maung kepada AFP.

September tahun lalu itu, aksi massa menentang pemerintah muncul setelah junta menaikkan harga BBM. Kehidupan tambah represif, sementara ekonomi juga memburuk.

Topan Nargis ini membuat semuanya semakin memburuk. Ratusan mobil antre di SPBU milik pemerintah untuk mendapatkan BBM. Di pasar gelap, harga BBM melonjak dua kali lipat.

Harga beras juga telah berlipat dua sejak topan melanda. Begitu juga air minum botolan tak tanggung-tanggung naik harganya, mencapai 5 kali lipat.

"Kehidupan kami semakin sulit setelah topan," kata Maung.

Akankah kemarahan ini menuju sebuah protes sosial yang lebih keras dari September 2007? (aba/aba)


Berita Terkait