Virus EV71 Sudah Mampir di DKI

Virus EV71 Sudah Mampir di DKI

- detikNews
Rabu, 07 Mei 2008 12:33 WIB
Jakarta - Virus usus enterovirus 71 alias EV71 yang saat ini menghajar China bukan virus baru di Indonesia. Pada tahun 2007, virus yang menyebabkan penyakit tangan, kaki dan mulut itu pernah melanda Jakarta.

"Sudah lama itu, tahun 2007 juga sudah ada yang masuk ke rumah sakit selama beberapa hari dengan gejala penyakit mulut dan tangan. Kalau sudah di Jakarta, logikanya berarti ada di daerah lain," kata Guru Besar Mikrobiologi Klinis FK UI Amin Soebandrio dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (7/5/2008).

"Memang tidak dilakukan pemeriksan virologi waktu itu. Tapi kalau dari gejalanya sangat mirip. Secara klinis, dokter pun menyimpulkan itu hand foot and mouth disease," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat itu, lanjut Amin, penderitanya seorang anak dari kalangan menengah. Anak itu mengalami gejala penyakit yang sama dengan yang terjadi di China sekarang. Yaitu demam, kulit melepuh kemerahan, timbul bintil serupa cacar di mulut dan tangan.

"Kalau tidak aware, orang menyangka itu sariawan," imbuhnya.

Meski pernah terjadi di Jakarta, penyakit mulut dan tangan itu tidak menjadi wabah. Penyakit itu juga tidak sampai menyebabkan kematian seperti yang terjadi di China.

"Saat itu dirawat beberapa hari, terus sembuh," kata Amin.

Tidak Mematikan

Menurut Amin, sebenarnya virus EV71 tidak mematikan jika dilakukan penanganan yang tepat. Jika segera dirawat dengan baik, penyakit ini akan hilang dengan sendirinya.

"Cuma yang dikhawatirkan komplikasinya. Kalau tidak cepat ditangani, itu bisa berbahaya," jelasnya.

Jika gejala awalnya sudah muncul, maka penderita harus dijaga agar tidak mengalami dehidrasi dan infeksi sekunder. Sebab, daya tahan tubuh yang turun mempermudah terjadinya infeksi.

"Kalau infeksi berat sudah terjadi, bisa berakibat ke otak. Itu yang mungkin menyebabkan kematian. Makanya sebaiknya begitu ada gejala awal, langsung dibawa ke dokter. Nanti disarankan untuk diisolasi, kemudian dilakukan observasi, selanjutnya pengobatan anti virus," urai Amin.
(fiq/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini