Demikian estimasi terbaru yang dikeluarkan junta militer Myanmar seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (7/5/2008).
Bahkan ada kemungkinan korban jiwa akan bertambah jauh lebih banyak. Lembaga Save the Children, satu dari segelintir badan amal yang diizinkan beroperasi di negara tertutup itu, memperkirakan korban tewas bisa mencapai setidaknya 50 ribu orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya itu akan jauh lebih tinggi. Saya tak akan kaget jika angkanya mencapai 50.000," kata juru bicara Dan Collinson.
Saksi mata menuturkan, pemandangan mengerikan terlihat di banyak tempat, termasuk di areal sawah yang dipenuhi mayat-mayat yang bergelimpangan.
Meski korban jiwa begitu besar, namun junta Myanmar tetap memasang syarat-syarat yang terlalu banyak untuk bantuan yang ditawarkan negara-negara Barat. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Prancis Bernard Kouchner.
"PBB meminta pemerintah Burma untuk membuka pintu. Pemerintah Burma menjawab: "Berikan kami uang, kami akan mendistribusikannya," kata Kouchner. "Kita tak bisa menerima itu," imbuhnya.
Topan Nargis yang menghantam Myanmar pada Sabtu, 3 Mei lalu merupakan topan terdahsyat yang menerjang Asia sejak tahun 1991. Saat itu sekitar 143.000 orang tewas di Bangladesh akibat serangan topan. (ita/nrl)











































