Dalam penyerangan ini juga terjadi pembakaran balai desa, sebuah SD dan sejumlah rumah warga. 26 warga Saleman pun sudah diperiksa pihak Polres Maluku Tengah (Malteng).
Sejumlah warga Saleman yang mengaku melakukan penyerangan, juga menyerahkan diri ke pihak Polres Malteng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil pemeriksaan, ungkap Kapolda, warga Saleman rapat selama 2 hari sebelum penyerangan dilakukan. "Dari pengakuan warga, mereka berkumpul di Balai Desa dan menyusun rencana penyerangan," tutur Kapolda.
Kapolda juga mengungkapkan, dari hasil penyisiran di rumah-rumah warga desa Saleman, ditemukan satu buah bom rakitan masih aktif, 1 buah senjata api rakitan, 4 buah tombak, 8 buah anak panah, 14 busur panah, 258 anak panah, 8 butir peluru caliber 5,56 mm dan 34 selonsong peluru kaliber 5,56 mm.
"Semuanya sudah diamankan tim Densus 88 Polda Maluku," ujar Kapolda.
Sementara itu sejak Senin, tiga Jenderal dari Mabes Polri dan BIN menuju Desa Horalle.
Tiga orang Jendral bintang satu itu, masing-masing Brigjen Pol Sunaryono yang menjabat Direktur D Bareskrim Mabes Polri dan dua orang lainnya berinisial Brigjen TNI IGRK (Kaposwil BIN Maluku) dan Brigjen BH yang menjabat Direktur dalam Negeri BIN.
Kapolda mengungkapkan Mabes Polri hingga kini masih melakukan penyelidikan intensif terkait insiden tersebut, "Kami menduga penyerangan tersebut sangat terorganisir dan dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman," ujar Kapolda.
Usai penyerangan warga Horalle masih mengungsi di sejumlah desa tetangga. Dan untuk mengantisipasi timbulnya penyakit, Pemda Maluku memberikan bantuan makanan dan pakaian.
"Kami sudah mengirimkan bantuan makanan dan pakaian bagi warga desa Horalle,” ujar Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu, kepada wartawan, di kantor Gubernur Maluku, Jl Pattimura Ambon. (han/mly)











































