"Kalau menjadi alternatif bila ada problem di Bandara Soekarno-Hatta mungkin itu perlu. Tetapi kalau tujuannya mengembangkan sebagai satu bandara mandiri, saya kira nggak usahlah. Karena saya kira Soekarno-Hatta sudah cukup layak," ujar Direktur Institut Studi Transportasi (Intrans) Darmaningtyas kepada detikcom, Senin (5/5/2008).
Selain menjadi bandara alternatif, Bandara Pondok Cabe juga perlu
dikembangkan sebagai bandara latihan, bukan bandara komersil mandiri. Pertimbangannya, runway (landas pacu) di bandara itu termasuk pendek. Belum lagi, posisinya yang berhimpitan dengan pemukiman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, imbuhnya, penumpang pesawat pun harus berpikir ulang jika pesawatnya harus mendarat di bandara yang runway-nya pendek. Penumpang dinilai lebih suka turun di bandara yang runway-nya cukup panjang.
Pemkab Tangerang pun diimbau agar mengembangkan angkutan darat saja. Karena sebagai bandara komersil mandiri, Bandara Soekarno - Hatta dan Bandara Halim Perdanakusumah sudah cukup memadai.
"Halim dan Cengkareng sudah cukup. Itu (Pondok Cabe) dibuat latihan atau bandara jaga-jaga saja. Tangerang itu mengembangkan angkutan massal darat yang baik saja," tandas dia.
Investor AAA dari Australia, bermaksud menyulap lapangan terbang Pondok Cabe milik Pertamina sebagai bandara butik berkelas regional. Mereka juga akan memperpanjang runway, memperluas bandara dengan menggunakan lapangan golf di seberangnya, dan juga memindahkan jalan yang ada menjadi underpass. Proyek ini diklaim tidak akan menggusur pemukiman dan memperhatikan safety dan security. (nwk/nrl)










































